Sabtu, 29 Januari 2011

ini masalah kebiasaanku, bukan menyangkut kebutuhanku.

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:21
 
 
 
 
 
ini bukan masalah kebutuhan..

tapi masalah kebiasaan.



bila suatu masa..

aku sedih kau tinggalkan,

bukan berarti aku tidak bisa hidup tanpamu..

atau terlalu membutuhkanmu.

tapi...

karena aku terbiasa ada kamu di sisiku.

ada kau yang selalu menanyakan kabarku,

ada kau yang selalu memperhatikan kondisiku.

ada kau yang selalu redakan ambisiku.

yaa...

biasanya ada kau.

haha.. ini masalah kebiasaan kawan.

bukan masalah kebutuhan.



sama halnya dengan nasi.

jika suatu saat aku lemah di sudut lapar.

bukan berarti aku tak mampu memasukkan roti tawar ke dalam lambungku,

bukan berarti lidahku akan terluka jika tidak makan nasi,

tapi..

kembali lagi..

aku terbiasa menjadikan nasi sebagai bagian penting dalam hidupku,

hingga saat sepotong roti yang jauh lebih cantik di hadapanku..

tetap saja aku akan memilih nasi.

walau ku tahu,

wajah nasi tidak semulus roti..

bahkan..

aku bisa berkata kepada dunia,

bahwa aku belum makan..

padahal aku telah makan tiga potong roti.

hm....



itulah kebiasaan.

jika aku menangis sedih,

bukan berarti aku terluka dan mau mati.

tapi,

itulah kebiasaanku kalau ada yang agak mengecewakan



jadi..

ku harap dunia bisa memaklumi kebiasaanku..

karena ini bukan menyangkut kebutuhanku.

ingin sendiri.

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:21
 
 
 
 
sudahlah..

tidak perlu menyalahkan, kerena memang tidak ada yang perlu saling menyalahkan.

berbicara masalah salah, kita memang sama-sama salah.

ingin berlari menyalahkan keadaaan, maka itu justru semakin salah dan kalah.

ku fikir kita memang harus demikian.

sadarilah, kita mengawali ini semua secara tidak alamiah..



sudah ku katakan jauh-jauh hari sebelumnya, ini terlalau cepat untuk diawali..

tetapi selalau kau yakinkan aku bahwa ini serius dan alamiah.

tapi tetap saja batiku yang paling bungsu dan terdalam merasa ini janggal.



bagaimana kalau kita akhiri saja?



bukan berarti aku, kau, atau kita kalah dengan keadaan.

tetapi kita kalah dengan keadaan dan kenyataan.

begitu pula dengan perasaan dan pertahanan..



aku, kau atau kita tidak lagi kuat bertahan.

itu saja...



bisakah ini di akhiri secara baik-baik?



agar mimpimu tidak lagi terbang tinggi, agar anganku tidak lagi terlalau melayang.

agar kau, aku dan kita dapat berfikir logis kembali...



sayang.,

aku tau kau menyayangiku, akupun demikian..

hanya saja aku wanita pemalas yang suka mengatakan itu semua,

aku malas berkata lewat kata, aku malas bermain lewat kalimat.

itu saja..



karena kata dapat membuat lidahku menjadi tawar.

dan aku malas menanami ujung bibirku dengan tebu yang manis.

aku lebih suka tawar dan biasa, karena kan terlihat sederhana..

dan....lihatlah..



kita benar-benar tawar dengan keadaaan, dan diantara dua sisis kepayahan.

sudahlah...



kita akui saja, bagiku yang emas, perak atau perunggu sama saja..

kita telah menjadi juara pada persengketaan perasaan masing-masing..



supaya adil, bisakah permainan ini diakhiri?

aku tidak kalah, tidak pula menang..

hanya ingin melepaskan ikatan dan lilitan perasaaan.



agar aku tidak mengikatmu

agar kamu tidak mengejarku..

bisakah kita kembali lepas tebang dengan sayap masing-masing?



sama seperti pertama kali kita mematri perasaan..

jadi bisakah kita lepas?

bisakau kau biarkan aku terbang secara baik-baik?

atau....

berika aku satu alasan kenapa kau layak dipertahankan.

Ibu…mandikan jenazahku.

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:07

Perih sekali saat nyawa itu terlepas dari jasadku.
Ada ribuan kali meringis menggelepar lirih saat tiap sel poriku tersentuh,
Tercabut nyawa.
Saat angin menyapu halus kulitku..
Halus……
Perih…….
Koyak….
Luka…..
Aku terasa bergetar tergores lapisan yang dikuliti hidup-hidup.
Dikoyak tanpa bius kapas alkohol nanar yang bau menusuk.
Ada jutaan rasa sakit menggelayut membalut tiap sel kulit ari di tubuhku.
Perih luar biasa.
Lebih menganga dari seribu luka,
Lebih lebam dibanding gores tetes butir garam dimandikan dalam koyak luka yang masih basah.
Perih……….
Saat nyawa itu terpisah,
Tak mampu terdefinisi lewat kata.
Hanya mampu bertawar kata lewat lidah yang sudah putih.
Saat itu aku sudah menjadi mayat.
Aku baru tahu kalau meninggal itu sakit.
Sakit luar biasa.
Perih tiada tara.
Sehabis ujung lipatan dunia.
………
Badanku terbujur kaku,
Tanpa ada asa tersisa kata,
Berharap dapat menggerakkan lidah,
Tapi sayang…
Jangankan tubuh, hatipun tak mampu bergerak.
Ingin sekali mendekati wajah ibu, untuk hanya sekedar ringan berkata..
“ibu…jangan tinggalkan aku……….aku takut”
“anakmu takut….”
“bu….aku takut gelap”
Jujur, aku masih belum mampu berfikir logis tentang dunia baru.
Dunia “alam kubur”
Dunia yang takterdefinisi.
Tanpa ada seseorang.
Tanpa ada teman,
Tanpa ada peneduh,
Jujur aku khawatir.
Ingin mencari perlindungan…
“ibu..ibu..ibu…jangan tinggalkan aku”
Berapa kali aku berkata itu, tapi ibu tetap tidak mendengar.
Ibu tetap tak menoleh…
Tak hanya ibu, tapi semua umat manusia pelayat jenazahku,
Tak ada lagi yang mampu mendengarku.
Kali Ini, aku benar-benar telah menjadi mayat.
Tak ada yang mampu mendengarku lagi.
Aku tak berguna tanpa kata.
Terbujur kaku,
Tersudut mati rasa, nanar pencabutan nyawa.
Tak ada daya, terbaring tanpa asa.
Menjadi mayat.
…………..
Beberapa sibuk menangisiku,
Menggoncang jasadku.
Beberapa pelayat matanya lebam membungkus duka.
Beberapa lagi berwajah datar nanar, aku tak mengerti.
Mereka sedih atau diam-diam tertawa?
Beberapa terdiam di sudut ruang rumahku, entahlah...
Apa perasaan mereka?
Beberapa sibuk menenagkan keluargaku,
Ibuku,
Ayahku,
Adikku.
Beberapa wajah, aku tangkap tanpa ekspresi,
Mereka tak percaya,
Ada yang berbela sungkawa.
Ada yang duduk-duduk.
Ada yang hanya berdiri di luar kediaman keluargaku,
Jutaan ekspresi wajah aku raih bertubi secara gratis saat mereka tahu,
Aku meninggal dunia.
Aku meninggal dunia, kawan.
………
Jenazahku sudah bersiap dibawa beberapa orang untuk dimandikan.
Dimandikan????
Ya..dimandikan.
Hm….
Ini saja masih perih, mau bagaimana lagi di sentuh kulit ariku.
Terlalau nanar lebam berlumuran perih pencabut nyawa.
Tapi mau bagaimana…?
Itu sudah aturan tata urut kewajibannya menjadi mayat.
Teriakan sakitku tak terdengar,
Beberapa kali aku mengadu,
Merintih, pilunya…
Perih…
Luka…
Koyak…
Tapi, tak terdengar.
Aku pasrah kali ini,
Melihat sosok mayat perempuan terbujur kaku bersiap dimandikan.
Mayat itu aku.
Aku sudah menjadi mayat.
Hufffh………….perih.
Hanya alam semesta yang mendengar rintihku.
Perihnya menjadi mayat yang baru terlepas nyawa.
………….
Ibu, nanar tertunduk duka,
Matanya sembab berlingkar kehitaman.
Hitam bertoreh luka di hatinya.
Dia gagu tanpa kata.
Dia tegar tapi rapuh… sekali,
Dia pucat tak bersemangat…
Wajahnya penuh sketsa duka lara,
Aku lihat itu.
Aku sentuh berulang kali,
Tapi ibu tak merasakannya.
Aku mati.
Ia hidup.
Hmm..
Dihadapannya telah terbujur sosok mayat anak perempuan,
Semua peralatan mandi sudah disiapkan,
Tangan ibundaku yang pertama membasuh tubuhku,
Menyentuhku,
Memegang kulit mayatku.
Inilah tangan wanita yang dulu biasa memandikanku saat aku masih kecil,
Saat aku masih pucuk,
Bayi,
Ingusan,
Coklat,
Saat aku masih ompong,
Saat aku masih mungil.
Kecil,
Hingga jadi mayat.
Ini perih luar biasa,
Tapi selalu aku tahan gemericik racikan luka.
Aku hanya ingin tangannya, tangan ibundaku…
Rasanya tak ingin ada manusia lain yang berhak menyentuh tubuhku yang menjadi mayat,
Rasa ingin selalu disentuhnya..
Membelai habis tiap sisi lipatan tubuhku,
Tubuh yang dulu pernah ia perjuangkan untuk lahir ke dunia.
Tubuh yang tiap hari dia tunggui saat masih bayi,
Beberapa kali ku tatap pelan sudut matanya,
Ada jutaan tetes air mata yang sengaja kuat ia tahan di ujung matanya.
Tertahan di pelupuk terujung sudut matanya.
Mata yang layu, nanar karena berduka.
Mata ibundaku.
Ah….mata itu.
Ingin sekali menyapa sekedar mengingatkan..
Ibu..pelan-pelan menyentuhku…
Pelan-pelan memandikan jenazahku..
Tapi, lidahku kelu mati rasa tak terdefinisi kata.
Dimandikan itu perih…
Air bersentuh kulit,
Kulit beradu kain..
Digosok,
Disabun..
Diguyur air busa..
Disentuh..
Dibersihkan..
Dibasuh..
Berulang-ulang.,
Beberapa kali digosok bolak-balik..
Huuuuuuuuuuuuufffffffffh…..
Ya Tuhan..
Perrrrrrihhhhhhh….merintih..
Ibu……pelan-pelan…..
Ini terasa dikoyak,
Dikuliti..
Menjadi mayat.
……………
Aku hanya ingin disentuh ibuku dimasa akhir,
Sebelum jasadku dimasukkan ke liang lahat,
Liang yang menjadi tempat terakhirku,
Menjadi episode penutup seorang marthalina.
Tempat yang menjadi awal aku dieksekusi,
Kalkulasi amal dan dosa riwayat hidupku.
Kali ini aku sadar sesadar-sadarnya…
Menajadi mayat itu adalah sebuah kepastian.
Sekarang sudah menjadi mayat.
Hmm….
Ibu,
Aku takuuuuuut…
Aku khawatir,
Aku sepi.
Aku sendiri.
Aku sebatang kara.
Aku meninggal.
Aku dimandikan.
Aku dikafankan.
Aku dikubur,
Aku dikhisab.
SENDIRI.
SUNYI.
………….
(“segera bawa ke kubur……kita makamkan”)
Aku bergidik bingung….
Belum sempat berfikir lain-lain,
-Episode selanjutnya dimulai-

(Eksekusi anak manusia)


hidup itu keras

oleh Tha LiNa pada 14 Desember 2010 jam 21:53
 
 
 
 
 
masih nanar torehan ingatanku saat aku masih terlalu belia dan puber.
masa SMP,
usil luar binasa,
beda jauh dengan aku yang sekarang,
sudah lumayan sangat terkontrol dan cuma kambuh-kambuhan saat moment gila tertentu.
sering bikin ulah dan bikin malu,
itulah masa SMP.
tapi aku suka dan sangat berkesan,
aku masih ingat,
aku punya dua orang sahabat yang sangat akrab,
diakui aku sering sekali bertengkar hebat,
melempar tipe ex,
pulpen, penghapus,
merobek buku,
dan sebagainya,
tapi kami bertiga terlalu sering terbahak-bahak bahagia bersama.
sampai aku merah sakit perut menahan geli setengah mati.
kami sangat akrab,
mereka penghibur lara.
sering berbalas hadiah,
meski cuma sebatas alat tulis atau benda murahan anak SMP.
...........
aku banyak mengalami perubahan hidup,
lebih tepatnya kami bertiga,
setelah lulus SMP kami bertiga berpisah,
tak sekalipun pernah bertemu,
atau dipertemukan,
ya..
banyak perubahan.
dan itu wajar.
kurang lebih tujuh tahun kemudian aku dipertemukan lagi,
anggap saja inisial mereka berdua adalah A dan B.
kali itu aku dipertemukan dengan A tanpa kesengajaan,
aku senang tiada terkira,
bisa berjumpa dengan sahabat lamaku.
kami banyak bercerita dan berbagi kisah,
suka duka,
sekarang bagaimana,
sudah menjadi bagaimana,
bagaimana kabar hati,
dan segalanya...
semua tentang aku, dia dan kita.
rasanya tak ada cukup waktu,
sekedar untuk berkisah tentang masa tujuh tahun kami tak berjumpa,
jujur...
aku kaget bukan kepalang saat pertama kali bertemu,
aku telah menggunakan penutup kepala,
begitu pula sebaliknya,
kami telah menyepakati hati membungkus apa-apa yang sekiranya harus dibungkus,
aku dan dia,
lebih tepatnya kami sangat senang dan bersyukur.
............
suatu hari kami menemukan alamat rumah B dalam sebuah ekspedisi mungil,
kami berhasil menemukannya,
bertanya ini itu,
mengajukan beberapa identitas dan ciri-ciri,
hehehee..
masyarakat bercerita si B sudah menikah dan punya anak,
yaaa.....Salam.
aku dan A langsung tertunduk malu,
kami kalah pasaran nee,,,
gahahaaahaha...
tapi lebih jauh dari itu sudut batinku merasa ada serpihan kekecewaan,
ya..kecewa saja, dengan pernikahan yang belum terbilang dewasa (menurut logikaku)
tapi apa mau di kata,
itiu sudah menjadi jalan hidupnya,
aku masih terlalu terseok dengan berkutat soal pendidikanku,
A sibuk dengan pekerjaan,
dia kuliah cuma tidak sampai sarjana,
(tak masalah)
sedangkan B sudah sibuk dengan rumah tangga,
aku merasa menjadi paling junior diantara mereka berdua.
mereka pasti jauh lebih kuat membijaksanai hidup.
(batiku)
....
alamatnya telah kami kantongi,
tinggal meluncur kesana,
sudah ada buah tangan yang kami bawa untuk sekedar membahagiakan tuan rumah,
aku kangen sahabatku,
"tok..tok..tok.."
assalamualaikum....."
tapi belum sempat sang empu rumah menjawab salam,
sudah ada manusia mungil, (hahah..balita)
yang berlarian membukakan pintu,
rumahnya agak tanggung,
tak terlalu kecil, tapi relatif luas,
sederhana.
tapi tunggu...
oh my God..
ini anaknya?
masih kecil-kecil....
entahlah..
kami tak benar yakin kami sudah mendatangi rumah yang tepat hingga kami melihat wajah B,
dari dalam keluar seorang wanita,
dengan tinggi yang agak sedang dengan perawakan yang sangat kurus,
wajahnya samar-samar sangat polos tannpa make up,
(aku suka itu, lebih natural) hee..
matanya sayu, tapi penuh harap melihat siapa tamu yang mendatangi rumahnya,
....
"eh...Martha, eh..ada A..."
ayo masuk, astagfirullah...kenapa bisa menemukanku.."
wajahnya kaget melihat kami bertengger penuh harap di depan pintunya,
kami berdua dipersilahkan masuk,
o...
ternyata anaknya ada tiga orang,
"bagaimana kabarmu...B?"
itulah kalimat pembukaku...
mencairkan suasana kagok super salah tingkah,
tujuh tahun tak berjumpa..
dia menjawab kabarnya baik dan agak kurang bersemangat.
matanya tak bersinar secara sempurna,
tak rapi dan lebih banyak kaget menatap aku dan A,
aku dan A maklum..
itu wajar,
kami hari ini mengagetkannya,
mendatangi rumahnya,
......
beberapa kali kami membuka lembar kisah-kisah masa SMP dulu,
sesekali B tertawa,
aku dan A ngocol abis,
aku mendadak kambuh,
tapi kali ini agak terkontrol,
B juga tertawa..sesekali,
tapi tawanya tak lepas,
ada banyak alasan hingga tertahan,
suasana hatinya tak seindah kami waktu SMP,
akupun maklum...
percakapan beralih kemasalah pribadi,
B banyak bertanya tentang studiku,
aku jawab seadanya dengan meminta doanya agar diberi kelancaran,
ia banyak mengangguk,
A banyak mendapat pertanyaan seputar pekerjaan..
A sangat bersemangat,
A sangat senang tiap bulan dapat menyisihkan uang gajihnya,
untuk sekedar membelikan makanan dan kue kesukaaan ibunya yang sekarang terkena penyakit stroke,
aku galau...tertunduk terasa bagiku..hidup itu keras Tha..."
hidup itu......
ah,
keras.
keras.
keras.
.....
kami beradu saling silang pertanyaan,
hingga A bertanya..
"mana suamimu?"
B kaget bukan kepalang!
kami seolah menoreh luka lama tanpa sengaja,
sepintas ku tangkap rona galau yang tertahan,
aduuuuuuhhh..kacau (aku membatin)
"suamiku sudah meninggal lima bulan yang lalu..."
ya Allah, aku mati rasa,
badanku terasa luluh lantak tak ada darah,
mendadak aku susah mencari oksigen,
aku kaget bukan main,
aku dan A merasa sangat bersalah.
membuka jahitan lama.
"maaf..kami turut berbela sungkawa"
itulah kalimat yang dapat kami ucapkan,
ada nanar air mata yang tertahan di sudut mata B,
aku tangkap raut itu.
aku seakan melihat irisan luka yang menganga.
aku sadar,,
sadar sekali bahkan.
B itu seumuran denganku,
untuk umur segitu sudah menerima beban hidup yang sangat berat,
ditinggal suaminya meninggal dunia,
dengan tiga orang bocah ingsan
sedangkan B hidup tanpa ada pekerjaan  tetap.
"subhanallah....lengkaplah deritanya" (aku membatin)
.....
anaknya putus sekolah,
pekerjaan B hanya menjahit baju yang tak menentu penghasilannya,
rumahnya biasa,
tapi sudah tiga bulan tak pakai lampu listrik,
tak sanggup bayar listrik lagi,
sungguh..
menangis tak berair mata.
.....
kami bertiga banyak berbagi cerita,
berapa kali aku didoakannya agar studiku lancar dan dapat menggapai cita-cita,
aku terharu,
batinku hari itu bergoncang kegalauan.
miris,
aku ingin menangisi keadaan itu,
doanya sangat tulus,
doa yang keluar dari lipatan hati B yang terlalu banyak sketsa hidup.
aku cengeng, tapi ku tahan,
aku diam-diam juga mendoakannya kebahagiaannya.
.....
kami berdua berpamitan pulang,
ini sudah agak sore,
kami tak mau terlalu lama menyita waktunya,
anak ingusannya ada tiga,
itu bikin panik bagi yang tak biasa,
A menyelipkan sejumlah uang sebagai oleh-oleh untuk tiga bocahnya,
aku.. menahan air mata.
betul-betul menahan air mata,
aku galau.
batinku tak terdefinisi,
diam-diam aku mensyukuri titian hidupku saat ini,
aku wajib bersyukur.
......
kami berpamitan,
aku menggenggam tangannya berulur pamit,
ada bias duka yang belum sembuh dalam hatinya,
ada banyak torehan hidup untuk hari esok yang harus ia fikirkan
bagaimana mereka makan,
bagaimana sekolah anaknya,
bagaimana ini,
bagaimana itu,
harus bagaimana,
dengan siapa,
untuk apa,
kapan ini bisa,
kuatkah?
mampukah?
sabarkah?
syukurkah?
ikhlaskah?
aku...susah bernafas hanya untuk sekedar memikirkannya,
.....
A dan aku menyelipkan sedikit uang untuknya,
awalnya kami ragu, takut B tersinggung,
tapi sudahlah..
aku bilang saja untuk ini oleh-oleh untuk membeli robot bagi putra ingusannya,
(hufffffhhhh..tha kamu kacau, masa untuk beli mainan!)
tapi sudah lah itu cuma kamuflase agar ia tidak tersinggung atau tersudut.
ku tangkap sekialas,
mata B ada cairan bening,
terlihat berkaca-kaca dan tertahan
aku yakin B sangat terharu,
itu tak seberapa kawan..
kami hanya sepintas lalu yang melihat dengan mata kepala...
hidup itu keras,
hm...

(semoga kau selalu dikarunia semangat, hingga putus asa mati dalam benakmu kawan)


untuk marthalina yang sering lupa bersyukur.

Hari pernikahanku

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:10
Hari ini hari pernikahanku



Aku senang tidak terkira,
Oke.
Tampilan luar.
Tapi memang bahagia,
Aku telah menjatuhkan pilihan.
Seseorang yang aku anggap paling baik untukku.
Untuk hidupku.
…………
Itulah yang terjadi.
…………
Sejak pagi tanganmu tak pernah lepas menggenggam tanganku,
Segala bentuk persiapan pernikahan telah kau pikirkan untukku,
Mencari gaunku,
Menyiapkan beberapa stel jas,
Membeli beberapa peralatan,
Menghubungi bebrapa agent prawedding.
Menyebarkan undangan,
Membeli bunga ..
Dan segala persiapan segala rupa telah kau lakoni.
…………
Sempurna.
Aku suka itu,
Aku tidak sempurna,
Tapi aku sangat menyukai kesempurnaan.
Terlihat egois,
Tapi sangat menyemangati pikiranku.
…….
Kau tampak begitu khawatir tentang aku,
Kau seolah tak percaya akan hari ini.
Ini adalah hidupku yang baru,
Dan kau pun tahu akan hal itu.
Hmmm..
Aku tahu kau sangat pengertian kepadaku,
Karena kau sangat mencintaiku.
Mengerti dan mencintai.
Karena mengerti jadi mencintai,
Atau karena mencintai jadi mau mengerti?
Ah..sudahlah,
Tidak penting.
Yang jelas kita saling mengerti dan mencintai.
……..
Hari itu kau menggenggam tanganku erat-erat.
Erat sekali malah.
Belum pernah kau pegang tanganku hingg terlalu erat dan terasa berlebihan demikian.
Tapi jujur ,
Aku merasa sangat kau lindungi hari ini.
Aku bahagia dengan penjagaanmu kepadaku
Hingga detik ini.

Kau tak banyak berbicara hari ini,
Tapi wajahmu terlalau banyak menjabarkan kata demi kata kepadaku.
Aku tahu itu.
Aku lihat kau tidak terlalu banyak bergerak hari ini,
Tapi perasaanku terjamah sedang berlari-lari, duduk, berdiam dan berbaring hari ini.
Kau diam tapi kau terlihat panik di mataku.
Kau diam tenang, tapi sangat galau di ujung benakku.
………..
Aku genggam tanganmu,
Kau gengganm tanganku,
Kita saling bergenggaman,
Tapi tahukah.
Aku tahu,
Kita berdua mati rasa dan mati gaya
Tak mamapu mengatur nafas.
Berpacu dengan perasaan kita masing-masing.,
Ah….kita kacau dan mabuk larut dalam perasaan.
Kita jatuh cinta masing-masing.
Hmmm..
Cinta.
Ya.
Kita saling mencintai,
Aku mencintaimu.
Kamu mencintaiku.
Sempurna.
Fantastis.
Tak ada cela.
…………….
Aku sempurna untukmu,
Kamu sempurna untukku.
Pasangan yang sangat bisa dibilang sempurna.
Kita berdua punya banyak cinta,
Mengerti sekali tentang definisi cinta.
Bahkan…
Kita mampu meracik cinta.
Berdua.
Jadi apa lagi yang dapat menjadi penghambat cinta di antara kita?
………….
Waktu pagi berlalau pelan, agak lembab dan basah.
Sudah tepat berada di depan gedung pernikahan terbesar di kota kita.
Tanganku masih kau genggam,
Semua sangat memaklumi itu.
Ayah bundaku tahu.
Keluargaku memaklumi itu.
Sangat maklum.
Terlalu memaklumi.
Atau hanya belajar memaklumi.
Entahlah.
Rahasia hati kita.
Aku mencintai dan menyayangimu.
Begitupun sebaliknya perasaanmu.
……….
Gaunku indah sekali hari itu,
Wajahku yang sangat jarang aku make up,
Hari itu mengeluarkan aura pancaran laini.
Janggal dan itu dapat dikatakan cantik.
Entah cantik dalam balutan kamuflase.
Make up, romansa pernikahan.
Tapi, aku akui hari ini cantik,
Pernikahan yang sempurna ,
Semua serba bahagia.
……….
Persandingan telah terbalut biru lembayung merah keemasan megah.
Aku kau antar menuju panggung pernikahan.
Sangat indah.
Gemericik musik tak henti menjadi pengantar,
Romansa sitrun hawa lembab keindahan pernikahan.
Hmmm…
Syahdu dan sangat tenang.
Sangat terkendali…
Kau masih genggam tanganku,
Tapi….
Kali ini aku yang gagu,
Aku kaku menggenggam tanganmu,
Jujur aku tak ingin kau lepaskan,
Kali ini dan selamanya.
Aku jatuh cinta kepadamu.
……
Sudah terlalu lama.
Berapa kali kau tarik tanganmu untuk melepas tanganku,
Tapi berapa kali juga ku semakin egois menggenggam tanganmu.
Seolah kita terkutuk.
Tapi aku suka itu.
Aku tak ingin dilepaskan,
Dan ku tahu kau juga tak mamapu melepaskan.

Hmmm..
Kau beberapa kali bilang aku cantik,
Aku tak perduli itu,
Kau telah terlalu banyak tahu tentang wajah polosku.
Kau menerimaku,
Itulah yang membuatmu indah di mataku.
Ah….
Kita parah.
Sama-sama telah dikutuk.
Telah terkutuk.
Perasaan.
….
Kau sangat mengagumiku.
Hari ini.
Terdengan banyak meluncur pemujaan kepadaku,
Aku mendengar,
Menganguk,
Mengulum senyum.
Aku tahu itu jauh di hari pernikahan ini.
Aku senang.
Tak terpalang.
Ingin terbang, setengah mengilang.
Hmmmm……
Berbunga-bung berkocol liar di perasaanku.
…..
Kali ini kau mencoba menenangkanku.
Memberi banyak pengertian kepadaku,
Kali ini tentang perasaanmu,
Perasaanku,
Perasaan kita berdua.
……
Kau berjanji dengan teramat sangat serius.
Dari hari ini kau akan selalu menjagaku,
Kau akan selalu menyayangiku,
Kau akan selalu mencintaiku,
Dan…
Selalu menyediakan bahumu.
Menjadi tempat untuk aku bersandar setiap waktu.

Kau mulai memaksa ku kali ini,
Melepaskan tanganmu,
Memberi pengertian..
……
Acara pernikahan sebentar lagi di mulai.
Akan terlihat sangat aneh apabila kedua tangan kita masih saling bergenggaman.
Tapi.
Aku sangat takut sekali,
Ku mohon.
Kali ini,
Aku ingin dikuatkanmu.
Tapi…
Aku tahu itu akan terlihat sangat aneh.
Kali ini kau menatap keras kepadaku,
Meninta melepas tanganku,
Dan mencoba mengguruiku untuk bersikap tenang.
Aku.
Aku terima.
Sudahlah…
Aku terlihat sangat manja.
Padahal mampu dikatakan dewas.

Kali ini kau sendiri yang turun tangan
Mengantarku ke depan saksi dan hakim sakralitas pernikahan,
Kau sendiri yang menyandingkanku,
Kau sendiri yang menjadi pengatur acaranya,
Beberapa kali akau menenangkanku,
Memberi pengertian kepadaku,
Aku senang akan hal itu,
Aku ingin begini.
…….
Kali ini sudah duduk berdua,
Ayahku menyapu wajaku..
Melihat terakhir sudut mataku dan sudut perasaanku.
Kau menatapiku erat dan kuat.
Menggengam tanganku sebentar dan berkata…
……….
“Menikahlah dengan baik dan bahagia, aku selalu mendoakanmu, belajarlah mencintai dan mempelajari arti cinta dari sudut pandang yang lain”
Aku mencintaimu dan menyayangimu, tapi aku bukan yang mengikrarkan nama ayahmu dan namamu dalam lafaz ijab Kabul ini.
Karena kita sudah memilih, kita sudah terpilih..
Kita sudah dipilihkan masing-masing.”
Kiat akan sangat berbahagia dalam diam, tergelayut mati dalam doa di ujung sujudmu dan sujudku,”
Kita kan sangat menjaga dalam keadaan, doaku selalu menyertaimu saat terakhir ini ketika aku melepas tanganmu.
“Belajarlah mencintainya, karena ia lah sekarang yang harusnya lebih aku cintai.”
“Dialah yang sekarang mendampingimu”
“Tugasku sudah berakhir hari ini menjagamu”
Tapi tugas-tugas ku mendoakanmu tak akan pernah mampu ku akhiri…”
“Namamu telah menjadi bait doa yang mati dalam setiap sujud keningku”
“Bahgiakanlah dia..
“Jadilah istri dan pendampingnya yang baik”
“Aku….mendoakanmu,
“Aku bersama kebahagiaanmu”
……………
Setelah itu kau melepas tanganku,
Menyaksikan pernikahanku.
Berbalik badan mengucap salam kepada keluargaku,
Pamit.
Menundukkan wajah teduh matamu.
Melempar senyum terhambar dalam hidupmu
(aku menyaksikan semua perasaanmu)
Dan itu sakit.
Kita berdua sakit jiwa.
………………………
Aku hanya diam.
Hening.
Bisu.
Kaku.
Tak menangis.
Tapi tak tersenyum.
Aku.
Aku.
Aku.
Aku.
Aku hanya berkata. Aku memiliki cinta.
Entah untuk siapa kali ini.
Kepada siapa kali ini.
Untuk apa kali ini.
Ya.
Aku punya cinta.
………
Kau diam.
Dia diam.
Aku diam.
Hening.
………
Di hari pernikahanku.
………

HARI INI AKU BERSALAH PADAMU, SAHABATKU.

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:10
 
 
 
 
Tahukah kamu, sahabat.
Malam tadi wajahmu aku tatap dalam-dalam,
Mungkin kamu tidak menyadari itu.
Tadi sudahlah.. tidak masalah, kawan.
Seorang malaikat telah menyadarkanku bahwa…
Kita telah sangat jauh di akhir ini,
Entah karena apa,
Batinku berbicara.
Keadaan yang menyeretku menciptakan ruang jarak di sisimu,
Ya.. betul.
Perubahan skematik alur hidup membawaku pada celah jarak dalam pisah.
Dalam bias persahabatan kita,
Aku menuai banyak kisah hidup di masa ini,
Banyak kisah yang dapat leluasa aku bagi padamu,
Bahkan..Tanpa batas.
Namun,
Terlalu banyak pula kisah yang membuatku mengunci mulut..
Kali ini,
Aku sering Hening dalam diam,
Tak bisa berbagi kisah kepadamu,
Bukan berarti aku mengabaikanmu, sahabat.
Bukan berarti kamu telah aku ganti,
Tapi…
Kali ini aku belajar menjadi bijak dalam menghadapi hidupku sendiri.
Maafkan aku…

Tahukah kawan..
Ada ruang penyesalan yang membatin dalam perasaanku kepadamu,
Maafkan aku sahabat..
Kali ini kita terasa jauh,
Walau sebetulnya kita sangat dekat.
Walau,
Jari Kelingkingmu masih kupengang,
Tapi hatimu dan hatiku saling berulur dan tak bersua,
Ada banyak cerita duka lara dalam bias hidup kita,
Kali ini….
Aku yang salah,
Aku terlalu banyak berubah..
Aku tahu kamu sangat menyadari ini,,
Tahukah…
Semalaman tadi aku bingung bukan main,
Tanpa sadar, ada sekeping hati di ujung sana yang telah terabaikan kali ini.
Aku hilaf dalam dosa.
Maafkan aku. Sahabatku.
Menyapa, tapi tidak dalam tegur hangat.
Bercanda, tapi tidak dalam gelak yang mencair.
Seperti dulu.
Ya…aku tahu ini terasa tawar,
Bagimu, bagiku, dan bagi kita.
Aku tahu ini banyak berubah,
Terutama aku,
Dan kamu menontonnya.
Menontonku..kawan.
Aku merasa matamu bahkan tidak pernah luput mengamati dan menaruh perhatian kepadaku,
Batinku berkata, kamu ingin sekali menyapaku,
Tapi keadaan mengunci mulut kita dalam diam,
Atau paling parah, kita hanya tegur sapa dalam tawar.
kali ini,
aku yang salah..
Membiarkanmu di sudut kebimbangan atas nama persahabatan
Yakinku , inginmu berkata kita bisa duduk bersama dan berbagi kisah suka lara lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Lagi.
Seperti dulu,
Saat kedua tangan kita masih hangat,
Saat aku masih tidak terlalu rumit,
Saat kamu masih terlalu polos dan sangat natural
Ya.
Aku sangat suka itu,
Tak banyak yang tahu,
Aku suka kenaturalanmu kawan.
Jujur saja,
Malam tadi adalah malam terbimbangku,
Aku ragu berkata kita masih layak disebut sahabat,
Di sisi lain aku telah menoreh rasa kehilangan di hatimu. (mungkin)
Di bias lain aku telah menepikanmu disudut persahabatan kita,
Jadi apa kira-kira masih pantas aku di katakan sahabat,?
Saat..
aku  sudah jarang menegurmu dalam hangat,
Jarang mengingatkanmu dalam kesalahan,,
Maaf.
Aku sudah jarang berbagi,
Aku sudah jarang mendengarkan kisah-kisahmu lagi,
Ya.
Jarang.
Jadi bisakah kau maafkan aku hari ini,
Aku berharap engkau masih sahabatku, kawan.
Temui aku dalam maafmu,
Terima tangankku dalam dinginnya hati kita.
Kita hangatkan lagi ..
Posisimu tidak mudah diganti..
Walau ku akui…
Keadaan membuat kita jauh,
Tapi sudahlah…
Ku fikir,
Bukan masalah banyak atau tidaknya waktu kita bersama, berbagi gelak tawa air mata..
Tapi,
Masih adakah namamu dan namaku dalam tiap doa – doa di munajat kita.
Jangan merasa tersisih atau terganti, karena aku tidak menyisihkan dan menggantikanmu.
Walau aku dengan yang lain atau dengan siapapun.. siapapun..
Ku fikir itu wajar dan …
Ku harap kita berdua bisa dewasa,.
Jika putaran bumi membuat kita menerima banyak pergantian musim,
Sebanarnya yang penting bagiku adalah matahari itu tetap bersinar,.
Aku tak peduli yang lain..
Jadi siapa yang dapat kau ibaratkan matahari itu kawan? Jawabannya adalah “aku”,
Jangan lihat pergantian musimku kepadamu, jangan lihat perubahan hidupku, kawan.
Tapi ingat bahwa aku tetap menyinari bias kebersamaan kita setiap hari.
Bila kadang ada mendung, dan sinarku agak terhalang,,
Maka maafkan aku, karena mungkin akan membuatmu terluka.
Tidak ada niatan menarik diri di sisimu kawan,
Hanya itu wajar dan ku harap kita bisa saling menerima dan bertambah dewasa, bersama..

SAHABATKU.

dia..

oleh Tha LiNa pada 24 Desember 2010 jam 16:42
 
 
 
 
 
 
dia..
memang hanya dia,
ku selalu memikirkannya,
tak pernah ada habisnya,
benar dia,
benar hanya dia
ku selalu menginginkannya,
belaian dari tangannya,
mungkin hanya dia,
harta yg paling terindah,
di perjalanan hidupku,
sejak gerap denyut nadiku
mungkin hanya dia,
indahnya sangat berbeda,
ku haus merindukannya...
ku ingin kau tau isi hatiku,
kau lah yang terakhir dalam hidupku,
tak ada yang lain hanya kamu,
tak pernah ada
tak kan pernah ada,
benar dia,
benar hanya dia
ku selalu menginginkannya,
belaian dari tangannya,
mungkin hanya dia,
indahnya sangat berbeda,
ku haus merindukannya,
ku ingin kau tau isi hatiku,
kau lah yang terakhir dalam hidupku,
tak ada yang lain hanya kamu,
tak pernah ada,
tak kan pernah ada,
ku ingin kau selalu di fikiranku..
kau yang selalu larut dalam darahku,
tak ada yang lain hanya kamu,
tak pernah ada,
tak kan pernah ada,
.....
berapa kali aku membolak balik untaiannya,
deretan tiap nadanya,
tiap pilihan katanya,
tiap lapis isinya,
tiap bait suku katanya,
ku fikir ini hal yang menyerupai hatiku,
jika pantas ini aku berikan,
tak akan pernah berfikir untuk aku tahan,
jika layak ini aku persembahkan,
tak akan pernah terbersit untuk aku sembunyikan,
aku bahkan tak mengelak,
atau jua pun membantahnya,
atau jua pun menampiknya,
atau jua pun berkata "tidak"
hati...
kali ini,
aku bahkan dengan lunaknya hatiku berkata ini "ia"
aku sangat sulit berkata "ia"
hatiku pun mengetahuinya.
aku justru banyak tak punya nyali untuk itu,
untuk sebuah pengakuan kata "ia"
tapi,
sungguh..
kali ini aku tak mengelaknya,
dia,
mungkin hanya dia,
indahnya sangat berbeda,
dia...
selalu larut dalam darahku,
selalu ada di fikiranku,


untuk sekerat hati yang berwarna biru >>

cukup saling mencintai

oleh Tha LiNa pada 11 November 2010 jam 23:04
Sajak sederhanaku





Seandainya aku vampire dan kamu manusia, aku sudah mengubahmu sejak dulu..
Agar aku tidak repot mengurusmu…!!
Seandainya aku manusia dan kamu vampire, maka sejak dulu kamu sudah mengubahku..
Agar kamu tidak repot mengurusku..
Masalahnya sekarang adalah…??
Kita sama-sama manusia, sehingga sulit merubah satu sama lain.
Coba saja..
Rubah aku jika kamu mampu melakukannya !!!
Tapi jujur,,
Aku tidak akan pernah merubahmu, karena aku tidak sanggup menciptakan manusia baru.
Aku tidak ingin membuat boneka-boneka kemunafikan dalam darahmu..
Karena itu bukan kamu, yang original…
Jadi biarlah begini…
Kamu dengan maumu..
Aku dengan inginku..
Tidak perlu saling menuntut karena hidup sudah terlalu banyak tuntutan.
Aku mencintaimu bukan karena aku menginginkanmu..
Karena kamu sudah tau,,,
Aku terlalu banyak keinginan..
Hingga tidak menutup kemungkinan aku akan terlalu banyak mencintai..
Maka…
Jangan ada yang saling mengubah dan saling menuntut,
Tapi cukup saling mencintai .


CITA-CITAKU INGIN MENJADI ARSITEK

oleh Tha LiNa pada 11 November 2010 jam 22:56
 
 
 
CITA-CITAKU INGIN MENJADI ARSITEK

DIMULAI DARI MENGANALISIS MAU KU SECARA EKSTERNAL
BERMAIN DENGAN HAYALKU SECARA INTERNAL
AKU AKAN MENJADI ARSITEK UNTUK HIDUPKU..
MENGHITUNG BERAPA BESAR VOLUME KEMAMPUANKU,
BERAPA LUAS PENAMPANG CITA-CITA AKHIRKU,
BERSPEKULASI RANCANGAN DESIGN MIMPI-MIMPIKU,

MENENTUKAN SEBIDANG TANAH KEHIDUPAN,
MEMBANGUN HAYAL-HAYAL RANCANGAN MASA DEPAN,
MENJATUHKAN PILIHAN PADA SKETSA DENAH PILIHAN.
AKU AKAN MENSKETSA SEMUA TINGKAH LAKU DAN PERKATAANKU..

MEMILIH TIANG-TIANG BESI ILMU PENGETAHUAN,
YANG AKAN MENOPANGKU.
MEMBANGUN PONDASI-PONDASI NURANI,
YANG AKAN MENJADI PIJAKANKU.
MEMBANGUN DINDING-DINDING PEMBATAS KEBEBASAN ABNORMAL.
MENUTUP BANGUNAN HIDUP DENGAN ATAP KESEDERHANAAN.
DAN MEMBERI WARNA DI SETIAP RUANG HATIKU DENGAN NUANSA MINIMALIS PENUH KEJUJURAN.
INGINKU………
AKU AKAN MENJADI ARSITEK HIDUPKU SENDIRI,


CINTA ITU BUKAN MENCARI UNTUNG DAN RUGI.

oleh Tha LiNa pada 11 November 2010 jam 23:00
 
 
 
CINTA ITU BUKAN MENCARI UNTUNG DAN RUGI.

WAHAI WANITA YANG TIDAK DIBUTAKAN HARTINYA…
JANGAN PERNAH SEKALI-KALI MENCINTAI SESEORANG ANAK ADAM HANYA UNTUK MENCARI KEUNTUNGAN DARINYA…
JANGAN PERNAH MENCOBA MENCINTAINYA KEMUDIAN DI EPISODE LAIN KAMU MERUGIKANNYA.
TAHUKAH WAHAI WANITA,
KALIAN ITU TERCIPTA KARENA NALURI KEBUTUHAN DARAH ADAM AKAN KALIAN…
SEANDAINYA ADAM TIDAK GALAU TANPA RASA SEPI DAN KOSONG…MUNGKIN,
LANGIT TIDAK AKAN PERNAH BERTELISIK UNTUK MENGGETARKAN TAHTA CINTA TUHAN UNTUK MENCIPTAKAN HAWA..
CINTA DALAM AURA LANNGIT INI TIDAK BERBICARA MASALAH UNTUNG DAN RUGI,
INGATKAH ENGKAU PADA NALURI ADAM YANG MASIH TETAP BERTAHAN DALAM TULANG KESETIAAN…
PADAHAL SUDAH JELAS BAHWA MEREKA TERUSIR DARI SYURGA AKIBAT GEJOLAK NAFSU HAWA…
TAPI APALAH ARTI RISAU DAN TAKUTNYA ADAM, INI  TETAP TAK BERBANDING DENGAN KESETIAANNYA.
WALAU SUDAH TERLEMPAR KE BUMI YANG PEMANGSA DAN KASAR..TAPI…
TETAP SAJA ADAM MENCARI HAWA…!!!
PERTUALANGAN MENCARI TULANG RUSUK YANG BERUJUNG PADA TANGISAN AJAIB DI PERTEMUAN.
JADI…
WAHAI PESONA-PESONA HAWA…
JANGAN PERNAH MENCINTAI DARAH ADAM HANYA UNTUK MENCARI UNTUNG DAN RUGI DI SISINYA..
KALIAN TELAH MENDURHAKAI KESETIAAN ADAM, YANG MASIH BERTAHAN.
 PADAHAL SUDAH JELAS BAHWA DOSA ITU AKIBAT NALURI HAWA YANG TAK TERBENDUNG…
JADI, DIMULAI DETIK INI… BELAJARLAH MENCINTAI SOSOK ADAM TANPA PAMRIH…DAN TERHORMAT.
KARENA YANG PALING BERHARGA SEBAENARNYA ADALAH ROMANSA-ROMANSA HAWA ITU SENDIRI.
YAITU KALIAN… WAHAI WANITA.


besok pagi aku meninggal.

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:06
 
 
 
bila esok pagi aku jadi meninggal..

kira-kira.....

adakah orang yang menangisi kepergianku?

adakah manusia yang meluangkan waktunya untuk berbela sungkawa kepada ayah bundaku, atau keluargaku?

adakah orang yang datang ke rumahku untuk melihat sosokku yang terakhir?

adakah orang yang meluangkan waktu membacakan beberapa kalimat suci mengantar kepergianku?

......

apakah adik laki-lakiku akan memaafkan kesalahanku sejak aku bersamanya hingga aku dewasa?

adik, yang selalu ku marahi jika dia bersikap usil kepadaku, padahal sebetulnya adik hanya ingin minta diajak bermain,

adik yang selalu aku ocehi saat kamarnya berantakan.

adikl yang aku didik secara sadis saat menyelesaikan PR matematika atau IPS nya hingga larut malam,

apakah kau akan memaafkan kakakmu,

kakakmu yang setengah pemarah ini,

kakak yang selalu menghukummu bila mengganggunya,

kakak yang akan marah besar jika kau masuk kamarnya tanpa mengetuk pintu,

kakak yang selalu memanggilmu ompong...

adik...maafkan aku,



apakah ayah..

ayah, mau memaafkan kesalahan putri satu-satunya,

yang sampai terakhir hidupnya tidak dapat dikatakan membanggakan hatinya,

putri yang selalu meyusahkan hidupnya,

memeras keringatnya,

membut hatinya khawatir bila pulang terlalau lama,

membuat perasaannya terluka saat putrinya mengacuhkan nasehatnya,

putri yang membuatnya menagis saat hari kelahirannya,

putri yang setiap hari ulang tahun selalu ia berikan kado special dan ucapan doa selamat untuknya...

sekarang putrinya itu terbujur kaku menjadi mayat,

akankah ayah memafkan dosa kesalahanku,

dari pertama kali aku menangis terlahir kedunia, hingga kau meninggal dunia????

ayah...



bagaimana dengan mama...

mama, maukah mama memafkan anak perempuanmu ini,

anak perempuan yang sejak pertama sudah membuatmu repot dimasa kehamilan, melahirkn, hinga melahirkan.

anak perempuan yang selalu membuatmu khawatir saat pergaulan menjadi brutal,

anak perempuan yang sangat jarang menanyakan kabarmu tiap hari,

anak sulung yang sudh membuatmu repot di setiap sisi kehidupanmu,

anak sulung yang pernah kau pertaruhkan nyawanya saat mama melahirkan,

akankah...

mama bersedia memaafkanku, dari aku lahir hingga kau menjadi mayat..



akankah.. adik, ayah dan mama mau mendoakanku untuk yang terakhir kali ini,

akankah adik mau menundukkan kepalanya untuk sekedar mendoakan kakak perempuannya untuk terakhir kali...

kali ini saja.

akankah ayah, mau mengusap kening mayatku untuk yang terakhir kali, sekedar memberi rasa aman kepada seonggok jasadku yang terkhir,, akankah ayah mau mengangkat tangan dan berdoa untuk ketenangan putri satu-satunya di alam sana..

ayah...kali ini saja, kpakah ayah masih mau mendoakanku..

akankah mama... masih mau meneteskan air matanya hanya sekedar tanda sedih akan kepergian hidupku..

apakah mama masih mau memandikan ku, membasuh jasad mayatku yang terakhir, sekedar untuk mendapatkan sentuhan tangan terakhir wanita yang paling aku cintai di muka bumi ini.



adik,

kakak tidak minta banyak kali ini,

hanya doakan aku, semoga aku tenang di sana..

aku sudah tidak lagi mengusili hidupmu sayang..

aku tidak lagi menyembunyikan kaos kakimu, kakak tidak lagi menggangu kau nonton tv,

memaksamu mengerjakan PR,jadi kali ini saya doankan aku..



ayah...

kali ini saja ayah, angkatlah tanganmu..

doakan aku, maafkan aku,

aku tidak akan pernah lagi membuatmu khawatir,

tidak akan pernah lagi merepotkan hidupmu,

tidak akan pernah lagi eminta kepadamu macam-macam,

putri yang tidak akan pernah kau khawatirkan lagi saat ia pulang ke rumah saat terlambat.



mama....

kali ini saja maafkan aku.

seluruh langit dan bumi aku rangkum meohon sujud di hadapanmu.

aku tak mampu menjabrkan kasih sayangmu.

aku hanya memerlukan doa dan kerelaanmu.. mama...



terimakasih untuk semuanya.

bait-bait romantis yang kada luarsa

oleh Tha LiNa pada 15 November 2010 jam 10:10
 
 
 
sajakmu terlalu romantis untuk para hawa,
tapi berlakukah untuk aku, tuan?
entah aku terlalu batu, atau rasaku tawar karena telah terbiasa..
aku sudah sering membaca mantra-mantra cinta pemuja dewi Athena.

andai aku titisan dewi yunani, aku mungkin telah jatuh hati pada pelukan dewa Zeus.
tapi sayangnya aku manusia tetesan darah wanita.
biasa.
hm...
tetap saja aku terpukau, terbuai,
karena sajakmu terlalu indah..
tapi..sadarilah..
aku masih sadar tuan..
aku wanita dan engkau laki-laki..
kita dewasa dan normal..
tahukah tuan, ini bait yang sangat berbahaya...
pemuja cinta saja bisa kalap mata, dan terpana
ketika setiap sudut mata angin kau getarkan atas nama cinta.

tapi..selalu harus tuan ingat,
aku masih sadar...

AYAH… TOLONG SIMPAN TISU-TISU ITU, JANGAN SAMPAI MAMA TAHU.

oleh Tha LiNa pada 26 November 2010 jam 17:01
 
 
 
“Pernah radang tenggorokan sampai berdarah?”
Bagi yang pernah mendapatkan itu.. rasanya sakit sekali kawan,
Susah menelan, susah bernafas, perih sedikit atau banyak. Entah,,
Yang jelas..panas meradang wajah memerah.
Ah..intinya sakit.

Itu terjadi sekitar empat tahun silam.
Radang tenggorokan tingkat medium menuju level tinggi.
Hedeeeh..
Banyak faktor yang menjadi sebab musababnya,
Tiba-tiba jadi radang tenggorokan.

Siang itu aku tidur siang,
Sudah seminggu susah sekali bernafas dan menelan ludah,
Terasa berat dan panas,
Betul.
Aku malas mengeluh dan mengadu ke mama,
Mama juga lagi sakit.
Beliau tidak bisa terlalu lelah.. memang ditakdirkan di rumah saja,
Melakukan pekerjaan ajaib sebagai mahkotanya rumah kami,
Ya..
“ibu rumah tangga”
Itu adalah aturan pernikahan dari ayahku..
Dan, Ibu menyetujuinya,
Meski Sebelumya beliau bekerja.
Hm…wanita.
(diam-diam aku salut)

Mama Tidak bisa terlalau banyak jalan-jalan mejeng sana sini – negumpi seperti tante-tante)..
Mejeng di mall,
Pasar,
Dan lain-lain..yang tidak jelas,
Terlalu banyak kegiatan.
Mama tidak bisa,
Kalo maksa nanti sakit,
Kecapean. (lelah…
Itu lah yang membuatny mau tidak mau… tidak terlalu suka perjalanan jauh.
mama betah di rumah,
Kalau maksa….nanti sakit (kata ayah.)
Ahaha… aneh2 saja suami istri ini,.
……
Ok.
Mamaku lagi sakit kawan..
Si putri sulung terpaksa dan memang wajib jangan banyak2 permintaan.
Hentikan naluri bias manja.
Stop.
Mama lagi sakit.
Mama istirahat saja..”
Nanti urusan dapur, cucian dan lain-lain kami yang membereskan”
(ayahku berbicara menenangkan mama…)
Itu sekilas tentang mama.
…..
Hm,
Bercerita tentang aku,
Sakit sekali nah…
Tapi malas mengadu,
Malas melaporkan diri dengan ayah,
Ah..tahan saja sudah.
Toh tidak bikin mati to?
Tahan lah tha..
Tiba-tiba tenggorokan terasa sungguh panas siang itu,
Huffff..panas tak terbias,
Aku menahan,
Tapi tak tertahan..
Aku minum air putih,
Tapi tak mampu mengguyur panasnya.
Hedeeeeeh..ko gini?
Akhirnya..
Betul-betul-betul
Tak tertahan,
Lari ke dapur dan meludah setengah mendahak..
Terasa ada cairan yang aku rasa mengalir ditenggorokan menetes hingga rongga dan pangkal lidahku.
Aku meludah..
Pelan.
…..
Ya Tuhan?
Darah.
Kenapa ini,
Inikan paling cuma radang biasa (aku membatin dan menebak...)
Semakin ku dehem..mendahak pelan…
semakin keluarbegitu saja..
Mengalir di sela-sela tenggorokan,
Darah ya..
Aduh, tak bisa di biarkan,
segera putar badan.. ambil kain dan tisu,
Hm.
Tetap tak tertahan,
Ambil lagi tisu, sapu.
Sapu bias darahnya,
Ayo tahan tha..
Tetap terasa mengucur.
Ambil es.
Ia..es, kira2 bisa di tahan.
Kompres.
Aku timpa di sekitar leher dan tenggorokan,
Tetap tak tetahan juga.
Mati fikir sejenak.
Aku lari berbaring kunci pintu ke kamar sudah.
Agak panik memang,
aku lama tak melihat darah segar mengucur.
Jadi shock..
Apalagi Ini darah sendiri,
Merah.
Ya Tuhan..

Tapi.. memang tak tertahan.
Berat dan sesak,
Akhirnya ku mulai betulan panik,
Tak kuat sendiri.
Adik tidur siang.
Kacau.
Mana ayah ya…”
Segera ku temui ayah.. darah masih tersisa, terbalut beberapa helai tisu,
Ayah di luar sedang mengatur beberapa pot tanaman anehnya,
Aku hampiri ayah, menutup mulut, tapi masih ada bekas darah.
Yah…”
Ayah menoleh.
“astagfirullah..Lina. kenapa?”
Aku panik dan hampir menangis, aku takut darah nah.. ini mengalir terus.
Kalau ditanya orang tua pasti kambuh naluri manjaku.
Pengen nangis..minta dikasiani.

Hening.
Sepersekian detik.
Ayah sontak melepas pekerjaannya,
Menarik tanganku, membasahi beberapa kain handuk kecil dalam air es.
Aku disuruh duduk,
Di kompres tenggorokanku dengan air es,
bebrapa handuk kecil sudah beradu kompresan air es berlilit di tenggorokan dan sekitar.
Mandi baluatan air es tenggorokan.
Darah tertahan.
Aku disuruh berbaring.
Beliau kompres sekitar tenggorokanku.
Darah agak tertahan dan mereda.
Aku disuruhnya tetap berbaring, pegang kompresan air es.
Semoga darahnya agak tertahan.
…..
Mama tidur,
Memang lagi sakit,
kami tak mau mengganggu,
Mama tak tahu dengan perkutatan darahku yang mengucur tiba-tiba.
Ah…
Dua adegan dalam satu atap.
Ayah mendadak jadi dokter pribadi.
Aku pucat takut darah sendiri.
….
Ayah memberi tahu adik yang setengah sadar di tidur siang indahnya..
bahwa aku dibawa ke rumah sakit dulu, tapi jangan beri tahu mama.
“ingat kalau mama bertanya..bilang ayah dan kakak lagi jalan ke luar cari kue di luar”
Itu pesan ayahku,
Aku sudah berbalut jaket, dengan handuk basah dengan air es.
Ayahku tancap gas mengantarku ke UGD.(sepertinya..
Panik, tapi beliau tahan.
Itulah ayah, tenang.
Tenang.
Tenang.
Aku diam-diam panik nah,
Ini darah terasa menetes di tenggorokan.
Tapi melihat wajah ayah, jadi ikut-ikutan tenang.
Sudahlah…
……..
Sampai di rumh sakit, ternyata benar.
Aku dimasukkan ke ruang UGD,
Dapat pemeriksaan beberapa waktu,
Cepat, sigap.
Aku sudah di penuhi dengan beberapa alat medis,
Kompresan.
Alcohol.. ah.
Ada beberapa suster dan dokter.
Di suruh tenang saja.
Dokter itu perikasa tenggorokanku, ini itu.
Diam.
Lama.
Ayah menunggu di luar..
Aku masih berbaring dengan dokter dan beberapa dayang-dayangnya.
Lalu muncul kalimat..
“ini radang tenggorokan cukup parah…
Kenapa nak bisa begini..”
Aku malas menjawab..
Lebih memilih sok memejamkan mata.
Aku sudah tenang kali ini,
Oh..radang “ (batinku..
Di minta meminum beberapa obat..
Dan beristirahat.
Ayah sudah diperbolehkan menjenguk.
“tidak apa-apa…dokter bilang hanya radang, tapi lumayan parah..kamu harus rajin minum obat ya..
Hari ini juga boleh pulang , tapi ambil sampel darah dan dahak dulu, besok ke sini lagi.. jadi istirahat saja dulu sebentar, lalu kita pulang.. tadi ayah sudah beli obat dan sirupnya.”
Aku tidak terlalu panik lagi denga informasi ayah, tadi pas di ruang UGD dokter sudah bilang..
Huffff… (jadi merepotkan ayah hari ini.

Setelah membereskan beberapa administrasi, kami pulang.
Jujur ini masih setengah lemas,
Tapi benar juga..terlalu lama di rumah sakit nanti mama curiga.
Gawat.
…..
Kami pulang.
Di rumah hanya ada mama dan adik, mama agak mencuriga.
Naluri kewanitaan dan keibundaannya tajam.
Kok lama jalan-jalannya.?”
Itulah kalimat mama yang menunggu kami duduk santai di ruang tamu ditemani adikku.
Aku dan ayah jalan-jalan ke warung kue jajanan..”
Buat di makan bersama-sama ma..inikan sore”
Ayah sudah membuat ultimatum kepadaku,
adegan rumah sakit dadakan tadi cukup rahasia saja.
Tapi..jujur Tenggorokanku sebetul-betulnya masih sakit,
Tapi beberapa kekuatan menahanku.
Ayolah tahan, jangan tunjukan sakit didepan mama.
Kali ini saja, aku kuat.
Ayah tenang.
Jadi terlihat biasa.
Tapi mata mama menghujamiku dengan tatapan penuh kecurigaan,
Jujur aku lemas, aku pucat.
Mama menangkap rautku,
Aku cepat – cepat berlalu.
Tadi ku rasa sudak keren sekali mengucurkan darah.
Lemas..
Aku cium tangan mama, dan bilang.
“tidak apa-apa tadi telat gara-gara pas di warung ayah ketemu teman lama”
Jadi ngobrol.
Ayah melirikku tipis.
Beliau menyetujui tipu muslihat ceritaku dalam diam bisunya.
Ok.
Maaf mama kali ini aku jadi pecundang di sisimu.
Hanya tidak ingin menambah fikiranmu itu saja.
..
Hmmmmmm!!!
Untung mama tidak ke kamarku,
Penuh darah di tisu.
Hufffh…
Hampir saja.
(atau mama juga….
(bertipu muslihat??
Aduh ini kacau. Semoga mama benar-benar jujur tidak tahu,
Cukup aku dan ayah yang main watak hari ini..
Kami berdusta atas mana cinta kepada mama.
….
Ayah..tisu-tisu ini dibuang di mana?”
Saat ayah menjenguk ku sebelum tidur istirahat jilid dua,
“bawa sini, biar dibalut Koran lalu masukkan ke kantong plastic”
Simpan obat-obatmu ini dari mata mamamu.. besok kita berobat lagi”
Mamamu sudah membaik dan sudah bisa memasak buat makan malam..
Mama yang paksa diri. Tapi sudahlah..
Walau hanya untuk tiga buah telur mata sapi.. artinya kesehatannya sudah cukup pulih.

Ayah..simpan dan buang tisu-tisu itu,
Jangan sampai mata mama melihatnya.
Besok pagi kita atur strategi lagi,
Cuma radang tenggorokan ko..
Tapi jujur ini sakit.
Sudah cukup tragedi darah mengalir hari ini.
….
Ok. Mama..nanti kami beritahu kisahnya saat aku sudah sembuh saja,
Adik? ahaha.. kamu jadi penonton saja kali ini.
Nanti kalau sudah besar pasti pandai main watak seperti aku dan ayah.
Hahahaa..
..
Maaf ya mama..
Kali ini kami main lakon.
Main watak.
Kami mencintaimu.


ayah menipuku dalam diam.

oleh Tha LiNa pada 26 November 2010 jam 17:05
 
 
 
Suatu hari aku mendapat sedikit keberuntungan dalam juara kenaikan kelas.
Lumayan.
Menyenangkan hati ayah ibuku.
Sebagai bukti nyata bahwa selama ini aku anak baik-baik.(menurut teori ayah)
(tidak suka nonton tv.) padahal pengennya minta ampun nah…
Ahaha..
Itu saat usia anak SD.
Tv seolah menjadi barang makruh dalam hidupku.
Pokoknya habis magrib WAJIB belajar,
Didampingi ayah.
(wajib konsentrasi)
Kalau tidak awas akan keluar kalimat pedas ayah.
Hm..takut. (sedikit)

Yap.
Belajar.
Mengerjakan PR.
Banyak unsur keterpaksaan dalam sudut batinku,
Tapi..
Sudahlah..
Dari pada panjang berurusan dengan ayah.

Akhirnya.
Lumayan.
Pas waktu pembagian rapot SD.
Hasilnya lumayan.
Ayah tersenyum..
Ahaha..(ayah. Ada2 saja) tapi diam2 aku suka.

Hari itu temanku yang prestasinya sedikit di bawah dari aku,
Sedikit. (Cuma selisih beberapa angka dibawahku)
Tidak pantas dibanggakan)
Mendapat hadiah special dari ayahnya.
Boneka panda.
Yang ukuran anak SD tidak bisa dipeluk.
Ampuuuuuun besar sekali.
Hm….

Aku menarik nafas,
Setengah ditahan,
Tapi cukup panjang.
Aku ingat itu.
Ingat sekali malah..
Aku ingin seperti itu.

Akhirnya aku pulanglah ke rumah,
Melapor dihadapan ayah..
Aku dapat nilai yang lumayan,
Tidak memalukan ayah sebagai sensei belajarku,
Dengan langkah pelan dan pasang muka memelas,
Aku berbicara dengan ayah,
Tepatnya dengan maksud juga ingin meminta hadiah.,
Haha(licik)
Aku sok dewasa seukuran anak SD, menggombal di sisi ayah..
Haha..
Rayuan maut si putri sulung.
Ayah mulai terpancing..
Angkat bicara..
Tapi wajahnya tidak terlalu bersinar,
Ada gurat tertahan di sana..
Ada kalimat yang ingin ia tahan..
Air mukanya agak merah sedikit padam.
Apa ini..
Aduh, cek-cek salah bicara neh.
Gawat.
Jangan sampai ayah sakit hati..
Kacau nanti.
Bisa tidak belanja di sekolah sebulan.
(haha..prasangka buruk)

Lama.
Hening.
Tertahan.
Akhirnya ayah memulai komentarnya..
“Lin.. ada maksud apa kamu bercerita temanmu di hadapan ayah..?
Ini cerita tulus, atau kamu punya maksud tertentu..?

Omaaaa. Aku mati gaya.
Mati langkah.
Sesak nafas.
Malu.
Ketahuan ayah.
Daging di wajah langsung menebal.
Tahan nafas, tapi takut mati.
Mau tutup muka, tapi sudah terlanjur di tatapi ayah dalam-dalam.
Ingin menarik kata2, tapi sudah terlanjut termuntahkan.
Akhirnya….

Lama.
Aku diam,
Memutar otak setengah pintarku,
Mencari referensi kata yang pas.
Tepat. Tidak berbelit.
Agar ayah tidak tersinggung.
Dan yang paling penting.
Keinginanku dituluskan ayah.
Aku ingin..
Hadiah.
Sama seperti temanku,
Yang notabenya lebih unggul aku.. “sedikit”
Tidak banyak.

Aku perlahan menatapi mata ayahku..
Hm….
Agak sungkan..
Aduh, sudah terlanjur basah kalap terendam nih,
Bagaimana.????
Akhirnya aku berujar,
Sok pasang muka iba.)
“Ayah…jujur, aku ingin seperti temanku.. mendapat hadiah dari ayahnya..
Aku tau ini berlebihan, ternya aku licik. Belajar hanya untuk mendapat hadiah..
Tapi…aku anak-anak biasa, aku ingin hadiah yah..
Terserah ayah saja..

Diam.
Hening.
Lama…

Ayah menjawab,
“baiklah”.. tapi aku tidak dapat memberimu hadiah yang besar dan mahal..
Kewajibanku masih banyak yang belum ku penuhi, ibumu belum dapat jatah uang belanja sepenuhnya., jadi tunggulah dalam minggu ini.. ya..? tidak apa kan..? kecewa?
Aku menjawab,
“ia ayah.. aku akan menunggu. Tapi aku Tidak kecewa.. ini sudah cukup.

Hm..
Sejak kecil aku memang susah meminta,
Aku tidak pandai merangkai kata untuk kuterbitkan di bibir..
Aku tau persis kondisi keluargaku,
Hawa romansa tiap sudut ruangan rumahku..
Aku tau hawa metamorfik personifikasi watak ayah bundaku.
Mereka itu..
“tidak suka banyak bicara, sehingga tidak suka banyak meminta”
Akhirnya akulah yang menjadi tetesan darah keduanya.
“sulit berkata-kata”
Putri sulung yang gagu meminta.

Setelah peristiwa “permohonan hadiah terselubung” itu ku lakukan,
Kehidupanku normal seperti biasa..
Bahkan aku hampir2 lupa,
Ayah terlalu lama mematok waktu,
Tidak instan seperti temanku,
Habis bagi rapot langsung ziarah ke toko boneka,
Sedang aku…. Harus menerima azab penantian satu minggu.
Azab? (batinku tersiksa..untuk ukuran anak SD haus mainan)
Ya Tuhan… ayah, ayolah… aku menyerah, terserah sudah permen juga tidak papa..
Aku sudah agak lelah, aku anak-anak..
Satu minggu itu repot.
Teman sepermainanku sudah bertengger dengan hadiah kenaikan kelasnya..
Aku?
Hm…hanya bermain perang-perangan dengan adik laki-lakiku,
Ampun.
Ayah bunda..
Lihatlah penantian putri sulungmu..
Yang SETENGAH berprestasi ini..
Hedeeeeeh,

Seminggu berjalan.
Tidak ada tanda-tanda ayah akan melahirkan hadiah untukku.
Hm…
Kayanya gagal
Mungkin ayah lupa,
Atau
Ayau hanya menggombali putrinya saja..
Sudahlah.
Berhenti berharap,
Toh kerja kerasku tak dianggap,
(batinku mulai menyedih..)
Prasangka buruk.
Ayah..maaf, ini terlalu lama.

. . . . .

Hari minggu,
Seperti biasa,
Mama membuka pintu kamarku, dan…jendela kamarku sekitar jam 5 subuh.
Ayo, bangun!! Sholat.
Hari minggu Tuhan itu tidak belibur dan diremehkan (kata mama)
Hm….
Setengah dongkol, masih ngantuuuuuuuuKKKKK.
Ini minggu,, santai…..
Tapi????
Ah,wanita yang pelit dispensasi.
Aku bangun.
Mandi.
Sholat.
Dll..
Hingga makan pagi..(bersama2)
Yang sudah disiapkan mama..
Biasa saja waktu itu,
Habis makan, si anak SD boleh nonton tv.
Cuma hari minggu aku jadi sapi betina pemalas di rumah,
Boleh nonton tv agak lama.
….
Lama aku berkuutat remote tv dengan adik laki-lakiku,,
Haha beradu film di beda chenel tv,
Aku suka conan, dia suka dragon ball.
Parah.
Otak kami memang tidak terlalu waras dan dibanggakan.
Tontotan kami tidak berkualitas tinggi.
Hahhahaa…
Aku berebut bantal lagi dengan adikku,
Akhirnya kami nonton tv berbaring satu bantal,
Dia usil sekali, sering mengacak2 rambut anehku.
Hedeeeeh..
Aku sering dibuat naik pitam
Tapi jujur aku mencintai bocah laki2 itu.
Adik laki-lakiku (tercinta, dan..terusil)
…..
Tiba-tiba ayah memanggilku,
Sumber suara sepertinya di teras,
Hah? Ayah ngapain..?
Oh..ternyata lagi menyirami tanaman tercintanya,
Aku menghampiri dan berkata,
“ia ayah..ada apa..?
Ayah lalu menjawabnya..dengan ekspresi santai..
“ganti bajumu..kita jalan-jalan.”
Aku binggung setengah panik, tapi kutahan kuat-kuat.
Mengatur pernafasan yang tersendat sejenak, lalu mengeluarkan kalimat,
“hm..dalam rangka apa ayah?” adik ikut..?
Ayah menjawab, “ayah ada keperluan, nanti kamu bantu membawa.. adik tidak usah ikut, biar di rumah.. tadi mama sibuk memotong2 sayur, biasa..hari minggu, agak special makanannya.”
Aku mengangguk setengah..k.e.c.e.w.a…
Ternyata Cuma di suruh bantu membawa. Pasti barang! Hm…aku membatin di sudut pilu. Aku mendadak dongkol diam-diam.
Tapi, aku tetap ganti bajuku, aku paling takut membantah ayahku. Aku sangat penurut. (jujur)
Kami pergi berdua, ayah tumben pergi tidak membawa motornya, kali ini kami naik becak pa Amin, tetangga yang biasa mangkal di depan komplek. Tuhan…. Apa-apa lagi ini? barang apa yang mau dibawa hingga pakai becak.. wajahku memburam. Banyak diam. Banyak menunduk. Banyak berprasangka.
Aku mulai betul-betul-betul kecewa dengan ayah diam-diam.
Akhirnya kami tiba di pasar.ayah membayar upah yang telah dilakukan oleh pa Amin. Ayah membawa ku ke toko2, tidak jelas mau beli apa. Seolah tanpa tujuan. Kakiku mulai lelah. Ingat, aku masih anak SD. Hm…… ayah…ayolah…setan di sudut hatiku mulai bergejolak ingin mengamuk, aku lelah nih.,
Setelah itu kami mampir di toko sepeda. Ayah mulai memegang beberapa sepeda, aku diam. Malas melihatnya. Aku cape. Tiba-tiba ayah menghampiriku dan bertanya..”masih suka warna biru atau putih?” aku Cuma mengangguk malas, lelah,kecewa.
Ayah memilih satu sepeda tanggung, warnya biru.
Eh, ternyata beliau membeli sepeda ukuran tanggung, kalu ku naiki bisa ko..
Eh, kuperhatikan pelan, beliau membayar. eh, ternyata beli sepeda to? Ekspresiku datar.
Setelah membayar ayah meraih tanganku,dan mengajakku pulang.
Ya..naik sepeda.
Jarak antar rumah dan pasar lumayan jauh, ternyata ayah ingin naik sepeda pulang ke rumah, ya sudahlah… aku diboncengnya. Asik juga, ukuran sepedanya tanggung, kalau aku bisa bersepeda, pasti aku akan jalan-jalan (batinku)
Kami pulang naik sepeda.
Aneh.
Ayahku,…ada-ada saja.
Tiba di depan taman kota, ayah menghentikan sepeda dan memintaku turun.
Ternya beliau ingin beistiraha sejenak,
Beliau membelikanku ek krim. 2 buah, kami makan es krim satu-satu.
Haha aku terhibur,
Meski masih dongkol dan kecewa..(sedikit), tapi agak impas disogok ayah dengan es krim pelangi. hahaha anak kecil,
gampang diambil hatinya,

ayah diam menati wajahku pelan-pelan dan mulai angkat bicara:
"Lin. masih ingat permintaanmu seminggu yang lalu?
aku menjawab:
"hm...ia, tapi aku sudah terlanjur tidak lagi mengharap, mungkin es krim ini sudah cukup. jala-jalan hari ini sudah cukup, itu hadiah dari ayah..es krim dan jalan-jalan."
ayah mengulum senyumnya yang terlalu teduh, lalu kembali berbicara:
"haha...terlalu banyak menjawabi ayahmu sendiri, perempuan itu jelek bila banyak bicara.. panjang sekali jawabanmu, hm...baiklah, es krim itu hanya bonus, jalan-jalan itu cuma bungkus kadonya saja, mau tau hadiahnya apa?"

hm...aku mendadak pusing tujuh setengah keliling (lebay)
lalu ku jawab pertanyaan ayah yang memancing nalarku,
"belum tau ayah, apa hadihnya?"
ayah lalu mengeluarkan sesuatu dari dompetnya,
aku berpikiran buruk lagi,
jangan-jangan hadihnya cuma uang lima ratus rupiah yang gambar monyet,)
hm...
ternyata e..eh.. bukan.
ayah memberiku kunci.
apa lagi nih?
oh, kunci serap sepeda,.
ayah lalu angkat bicara,
"sepeda itu adalah hadiah dari ayah dan ibumu.."
bagaimana?"
aku gagu, salah tingkah, mau tersenyum tapi sudah banyak dosa prasangka,
akhirnya cukup mengangguk dan menahan kuat-kuat air mata yang HAMPIR turun,
aku cuma MAMPU berucap:
"ayah..terimakasih, maaf sudah aneh  seminggu ini"
ayah menatapi bola mataku agak dalam..beliau sumringah tertahan melihat KELAKUAN konyol putri sulungnya,
ayah lalu berkata:
jujur, yang menjadi hadiah sesungguhnya bukan sepedanya..tapi KUNCInya,
dengan satu KUNCI yang tepat, kamu dapat membelah setiap sudut jalan, menikmati similir angin naik sepeda dan bersenang-senanglah..
kamu tahu rahasia KUNCInya, maka kamu akan dapat banyak cara menggunakannya.

aku diam..
hening.

tak ada kalimat yang mengharu biru membatin di sudut jantung hati jasadku yang masih seumur SD,
kecuali..
sungguh...
ayah telah mengajarkanku menjadi orang SABAR kali ini.
aku belajar cara MENUNGGU yang hampir gila,
aku belajar cara menahan angkara murka prasangka busukku,
dan.. aku tau bahwa ayah mengajariku untuk berusaha dulu, baru meminta,
hasil dan hadiah itu hanya EFEK SAMPING saja,
sisanya..
aku menang.

yang penting ayah sudah tersenyum.
dan diam-diam aku menangis.
bahagia.

ARSITEK ITU TUKANG SIHIR

oleh Tha LiNa pada 11 November 2010 jam 22:58
 
 
 
 
ARSITEK ITU TUKANG SIHIR

JARI-JARI TITISAN MALAIKAT MENJELMA DALAM BALUTAN-BALUTAN TANGAN ARSITEK.
JARI-JARI TITISAN SETAN MENETES DALAM RUAS-RUAS JARI ARSITEK.
ARSITEK ITU PILIHAN HIDUP.
MAU JADI MALAIKAT ATAU SETAN ?

KENAPA KA’BAH BEGITU MEMUKAU?
KARENA RANCANGAN ARSITEKNYA DARI SYURGA..
KENAPA GEREJA KATEDRAL BEGITU INDAH?
KARENA DESIGN ARSITEKNYA DARI NIRWANA..
KENAPA BOROBUDUR BEGITU CANTIK?
KARENA SKETSA ARSITEKNYA DARI KAYANGAN..
KENAPA WIHARA BEGITU ANGGUN?
KARENA GORESAN ARSITEKNYA DARI LANGIT..

KARYA ITU BISA INDAH ATAU BURUK, TERGANTUNG JARI-JARI ARSITEKNYA.
SATU DEMI SATU ARSITEK MENYIHIR MATA MANUSIA DARI GORESAN PENSIL, JARI-JARI MUNTAHAN KERAS KEPALANYA.
SEMAU-MAU HATI MEREKA MENCIPTAKAN AURA BANGUNAN!
ADA YANG TEDUH,
ADA YANG MEGAH,
ADA YANG ANGKER,
ADA YANG TERHIMPIT,
ADA YANG CANTIK,
ADA YANG LAPANG,
ADA YANG MINIMALIS,
ADA YANG KLASIK,
ADA YANG MEDITERAN…
TAHU KAH MANUSIA TELAH TERSIHIR OLEH ARSITEK, DAN.. TIDAK ADA YANG PROTES DAN HANYA TERPANA!!
KA’BAH, MENARA EFFILE, BOROBUDUR, MENARA MIRING, PIRAMIDA, TEMBOK CINA, DAN SEJUTA MAHA KARYA LAINNYA.
KAU, AKU, KALIAN, KAMI, MEREKA, KITA… ADALAH BUDAK-BUDAK DARI MAHA KARYA HASIL TUKANG SIHIR ARSITEK!!..
KITA CUMA BISA JADI HAMSTER KECIL DALAM PENJARA-PENJARA DENAH PERMAINANNYA…DAN ITU PARAH.

ayah masih mampu membelikanmu baju yang baik...

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:18
 
 
 
hari itu, aku suntuk di rumah.
karena kuliah diluar daerah dan jarang pulang,
jadi suasana kotaku sudah tak terbaca dengan nalar lagi..
teman-teman seperjuangan SMA, pada kuliah di luar kota..
teman yang lain, pada sibuk masing-masing.
kuliah,
pacaran,
nyari tugas,
ada yang kerja,
ada yang sudah ngurus anak..
dan...........
lain-lain.
ribet.

adik masih les matematika,
mama sibuk yasinan.
tinggal aku dan ayah di rumah.

untung ayah perhatian..
lau bertanya?
mau jalan?
dengan ayah?

tanpa pikir panjang aku mengangguk.
ia ayah..
lagi bosan..

ayah berujar, ayo ganti baju,
jangan lupa tulis pesan di pintu biar mama tidak panik.

motor diturunkan..
ayah yang jadi pengendara, aku di bonceng.
senang.
tapi agak aneh.. dan canggung.
jalan-jalan sore dengan ayah.
itu ritual yang biasa ku laukan,
tapi kali in aku panik dengan nuansa kota yang banyak perubahan.
sepanjang jalan kami bercerita,
aku banyak bertanya ini itu.
ayah meladeni pertanyaanku,
bahkan pertanyaan bodohku..
haha..
ayah..
aku menyayangimu..

tiba di suatu kedai makanan,
kami berhenti.
ayah bertanya padaku..
Lin, mau makan?
kita santai sore ini..
biar mama cemburu
(haha..mustahiL)

aku dipesankan ayah sate..
ayah pesan rawon..
kami pesan teh panas..
beberapa potong puding dingin.
hm..
ayah mendadak romantis..
maklum aku jarang pulang..
ah, tapi sering begini ko,
sudah biasa.

ayah anti es dingin,
aku terpaksa menuruti,(padahal pengen juga,,
tapi biasanya ayah melarangku..
ya sudahlah..
turuti saja.

kami antri,
selesai antri.
kami menikmati santap sore tambahan..

tiba-tiba.

datang dua orang wanita muda,
mungki lebih tua dia dua sampai tiga tahun dari aku,
dan yang satunya anak ABG..
seusia adik laki-lakiku.

memarkir motornya, dan turun.

ampuuunn.....

dandanannya saja..
bajunya minim kain,
celana nya ketat sekali,
rambutnya panjang,
cantik.
aku sebagai wanita terpesona.
apalagi laki-laki,)
ya TUhan..
makhluk macam apa ini...
hm...
luar biasa.

kedai makanan hening.
ada dua titisan wanita dewi athena turun ke bumi,
tepatnya ke kedai makanan)
hee..

laki-laki kagum,
diam-diam mereka memperhatikan,
ada yang menghentikan makan.

wanita itu pesan makanan,
ternyata cuma di bungkus.
lalu pergi.

hening.
banyak pasang mata diam-diam memperhatikan.
memang cantik,
indah..
dan terbuka.
hm..

berlalu..
semuanya kembali normal.

kami melanjutkan makan.
ayah menatapiku berulang-ulang,
ada guratan kehawatiran dimatanya.
aku menagkapnya dengan sadar..
aku bertanya..

ayah..ada apa..
apa ada kecap yang menempel di wajahku..?
atau ada saos yang muncrat di jilbabku..?
(kebiasaan buruk)

ayah menjawab..
"tidak'
hm..lalu beliau kembali berbicara..

"Lin, apa yang kau pikirkan saat melihat dua wanita tadi?
aku menjawab..
"cantik" hm..rambutnya panjang dan badannya bagus..
kenapa ayah?
(pikiranku mulai aneh)

ayah menjawab:
"cuma itu?"
aku jawab.
"ia ayah..hm..kenapa yah..mau ku laporkan sama mama?
haha...ayo..ayah liat apa..?
hm..laki-laki..
heheh

ayah mengulum senyum dan berkata..
"dasar anak muda.. pendek sekali pikiranmu..
aku tertunduk setengah malu dan berkata..
"hm...yah, serius ni...ada apa..
jangan main tebak-tebakan di warung.. saya sudah dewasa ni..haha

ayah tetap mengulum senyum, tapi kali ini wajahnya agak serius..
lalu berkata:
seandainya salah satu wanita tadi adalah kamu, detik itu juga ayah akan menagis.
malu.

aku angkat wajah dan memasang wajah bodoh dan berkata:
"hah..kenapa menangis yah..?
ayah menjawab:
"ayah masih mampu membelikanmu pakaian yang baik,
yang membalut auratmu dengan baik, tidak setengah, sepertiga, atau seperempat. tetapi pakaian yang utuh,.
uang gaji ayah masih bisa disisihkan untuk membeli lembaran kain penutup kepalamu.. tahukah... ayah tidak sampai hati melihat bajumu yang setengah-setengah,.
tahukah perasaan ayahmu yang melihat putri satu-satunya dipandangi tidak secara baik-baik?
itu sangat menyakitkan..sama dengan menampar wajahku.
hm..karena kamu adalah darah dagingku, aku merasa risih jika kau memakai pakaian setengah-setengah dan manusia memandangimu..
seolah olah memandangi darah daging tubuhku sendiri..aku ayahmu.dan.akulah laki-laki pertama yang malu.
ingat itu.
ayah masih mampu menyisihkan uang untukmu..
membeli pakaian yang baik untukmu.
putri sulungku.

hm..
hening..

sate tidak pedas tapi aku mau menangis.
tapi malu,
ini di warung..
ayah mendadak so sweet.

hm..
mengulum tangis dalam balutan makan sate.
aku sering tersengal,
ingin menelan makanan,
tertahan.
beradu dengan air mata yg kuat-kuat ku tahan.
ingin meneteska air mata.
ingin.......
tapi ku tahan.

diam-diam aku memandangi wajah ayahku yang teduh.
besar sekali gurat khawtirnya terhadap putri tunggalnya.
betapa khawatirnya ia akan putrinya kesayanganny.
aku sadar berulang-ulang.
sadar sekali malah..

aku mencintaimu ayah.
mencintaimu.
ayahku.

anggap saja bungkus kacang

oleh Tha LiNa pada 14 Desember 2010 jam 21:51
 
 
 
saat manusia melarangku untuk menulis lagi,
jangan pernah berharap aku akan PEDULI dengan dia lagi,
aku bahkan ingin mengingatnya pun tidak,
saat kalimat itu meluncur begitu saja,
kepadaku,
kepada darah puisi-puisiku,
plak! plak! plak!
tamparan yang keras,
tapi aku lebih memilih itu,
jika diajukan sebuah pilihan aharus berhenti ,
menghentikan tanganku untuk menulis.
menulis.
aku menulis,
aku banyak menulis, bukan karena aku suka menulis,
tapi karena ini adalah sebuah jalan keluar,
jalan keluar dari penuh dan jejalnya isi otakku dengan hal yang tidk penting.
menyiarkannya kepada orang lain dengan bercerita sampai berkeringat, itu adalah hal yang sangat menyita waktu hidup.
huffffhhh...
kepala ku sudah terlalu penuh untuk menampung sketsa dunia,
harus ada beberapa wadah untuk menampungnya.
jadi biarkan saja aku menulis,
tak perlu di baca kalau tidak terbiasa,
tak perlu ditoleh,
karena itu tidak penting...
huhaaaaa...
anggap bungkusan kacang,
ini tidak berpengaruh terhadap hidupmu,
ini hanya sketsa otak dan hati yang terbuang percuma yang nanar menjadi lintah dalam hidupku,
hm...
dari pada aku mati sendiri,
lebih baik aku....
menulis.
ya..
kembali lagi,
menulis..!
...........
aku keras kepala,
memang begitu adanya,
aku bahkan tak mampu mencairkan fikiranku sendiri,
aku tidak akan pernah menyukai sesuatu bila aku tidak benar-benar menyukainya.

akulah dia

oleh Tha LiNa pada 31 Desember 2010 jam 7:48
 
 
 
hmmmm...

hmmmm...

hmmmm...

hmmmm...

^______^

tak pernah berhenti,
mencari cinta,
selalu saja ada yg tak kamu suka,
terlalu jauh engkau melihat,
coba rasakan apa yg ada disekitarmu,
sesungguhnya dia ada di dekatmu,
tapi kau tak pernah menyadari itu,
dia selalu menunggumu untuk nyatakan cinta,
sesungguhnya dia adalah diriku,
lebih dari sekedar teman dekatmu,
berhentilah mencari,
karena kau telah menemukannya,
dia mungkin bukan manusia sempurna,
tapi selalu ada untukmu,
sesungguhnya dia ada di dekatmu,
tapi kau tak pernah menyadari itu,
dia selalu menunggumu untuk nyatakan cinta,
sesungguhnya dia adalah diriku,
lebih dari sekedar teman dekatmu,
berhentilah mencari,
karena kau telah menemukannya,
hanya dia yang telah mengenalmu,
hanya dia yang selalu setia,
sesungguhnya dia ada di dekatmu,
tapi kau tak pernah menyadari itu,
dia selalu menunggumu untuk nyatakan cinta,
sesungguhnya dia adalah diriku,
lebih dari sekedar teman dekatmu,
berhentilah mencari,
karena kau telah menemukannya,





(sepersekiandetikrasa) menjadilangit,ituyangakusuka ^____^
putih itu dijodohkan Tuhan dengan biru, bukan hitam ...
hmmm...

aku terbahak dan terpingkal-pingkal.

oleh Tha LiNa pada 21 Desember 2010 jam 14:49
 
 
 
teman itu penting, sangat malah.
ku tak bisa bayangkan, jika suatu hari aku sendiri tak ada lagi manusia di sekitar,
untuk sekedar melempari aku senyum tawar atau entah apapun itu.
aku bahkan tak bisa membagi lagi cairnya air mataku,
aku akan kerontang mengering saat tak ada hati manusia yang peduli padaku,
manusia yang sekedar menoleh amarah kejutanku,
atau tak ada lagi manusia yang sekedar membalik badan melihat tawaku hari itu,
tak ada manusia yang menegakkan badan sekedar perhatian tentang duka laraku,
aku akan menyerah.
aku akan terbantai lelah tak ada berharga.
ahaha..terlalu berharga kawan.
terlalu tinggi tahta keperluanku terhadapmu,
sampai merana seperti itukah aku?
ia.
sendiri itu menyedihkan.
sendiri itu sudah langkah awal kehancuran,
meski banyak jalan mengalirkan jutaan emosi,
tapi jalan itu pasti mati, pasti bisu.
beda halnya dengan manusia yang memiliki sekerat hati dan perasaan.
ia akan dengan sangat fleksibel menangkap jutaan sketsa emosiku,
apapun itu.
.....
kawan...tahu kah kau,
aku datang hari ini dengan similir kegalauan,
tak ku rajut rewat rinai wajahku,
ku poles dengan jutaan tawa keceriaan di sudut rautku,
tak terdefinisi lewat kata bahwa aku sedang tak ingin didefinisi.
hidupku sudah banyak menoreh sketsa, kawan.
tapi...
rintik gemuruh lelucon kalian memaksaku untuk membunuh air mata ku yang tak terdefinisi itu.
aku bahkan lupa hari ini aku sedang bersedih pilu,
hatiku sedang abu-abu..
aku lupa!
aku hilang ingatan!
hari ini aku kalian buat terpingkal-pingkal merah tertawa,
beberapa kali aku terbahak hebat, dan aku sangat jujur hari ini,
aku sangat susah untuk jujur terhadap ekspresi dunia,
tapi hari ini aku menjadi manusia polos yang sangat jujur,
aku senang, air mataku kalian sapu beramai-ramai,
duka laraku kalian buang bersama-sama.
aku merasa aku manusia paling berbahagia hari ini,
masih ada orang yang peduli akan hatiku,
akan emosionalitas nalar logis dan perasaanku,
aku jujur di hadapan kalian,
jarang itu bisa ku lakukan..
tak sembarang orang aku dapat berbagi kisah,
tak semua manusia dapat menerimaku,
tapi..
kalian bisa,
kalian mampu,
kalian senang,
kalian ikhlas,
kalian sangat tulus,
hm...
aku bahkan ingin menangisi tulisanku kali ini,
teman...sekali lagi,
kalian begitu berharga dalam hidupku,
ada bebrapa bagian dari kerat hatiku yang itu isinya adalah kalian.
aku mencintai kalian atas nama Tuhanku dan hidupku,
aku..
teramat sangat berhutang budi baik dan perasaan kepada kalian...
aku berharga atas nama kalian semua,
aku bernilai di sini atas nama persahabatan kita semua,
hm..
aku jujur sekali kali ini,
kalian sudah mengetahuinya,
aku jarang mampu jujur memoles wajahku di sisi dunia,
tapi kali ini..
aku membungkukkan setengah badan,
membuang separoh rasionalitas, logika dan perasaanku,
untuk hanya sebatas berucap...

aku menyayangi dan mencintai kalian seperti kasih sayang darah yang mengaliri di setiap balutan tulang belulang manusia.


untuk hati yang hari ini terbahak-bahak bahagia oleh sahabatnya,
hari ini, masa dulu, dan sampai seterusnya begitu berharga,
bersama kalian.
atas nama persahabatan dan kasih sayang manusia.
21-12-2010

penghujung tahun yg indah..(atas nama persahabatan)

aku menjauhi ayah

oleh Tha LiNa pada 16 Desember 2010 jam 10:35
 
 
 
bagi beberapa orang mungkin ini cuma hal kecil yang lebih pantas di taroh di gudang,
disimpan,
berdebu lusuh,
atau bahkan dibuang saja,
tapi bagiku...
aku akan membeli sebuah ukiran bingkai foto untuk dijadikan sebuah figura hati,
potret besar yang akan aku pertontonkan kepada dunia,
bahwa yang salah sebetulnya adalah aku.
.....
aku masih ingat kala ku masih kecil,
sekecil usia sebelum kelas tiga SD,
setiap hari minggu pagi aku selalu lari pagi dengan ayahku ke pusat kota,
di sana banyak berkumpul manusia yang haus akan kesehatan atau sekedar mencari suasana baru.
saat itu adik laki-lakiku masih terlalu bayi,
hingga ibu tidak bisa ikut,
awalnya..sebelum adik lahir, mama juga ikut lari pagi.
sekedar mencari hawa basah yang masih bersih.
yaa..itu saat aku masih menjadi anak tunggal,
saat aku masih bocah sekali.
kami lari pagi di subuh minggu.
aku senang.
saat itu ayah ibuku masih kuat berlari...
aku diolok-olok sebagai balita lelet,
ayah sombong sekali,
larinya paling kencang diantara kami,
mama finish nomer dua..
sedang aku,
setengah mati finish diurutan nomer tiga,
ah, bocah kecil.
ayah dan ibu sering mengolok-olok ku,
kata ayah aku sepupunya siput yang lelet dan lambat itu.
ahahahaaaaa.....
tapi aku senang.
setelah lari pagi itu,
kami biasa mampir di kedai makana "ketupat kandangan"
makanan khas daerah yang terbilang sudah membudaya.
kami makan untuk sekedar mengisi perut sambil memesan teh manis panas.
brrrr.....
panas dan bikin keringat bercucuran.
tapi..kenyang dan sehat.
hahahaaaaa...
......
waktu itu hawa subuh kota masih sangat asri dan segar,
aku ingat saat itu aku berumur kelas satu sampai dengan kelas tiga SD,
kotaku masih bersih dan masih berembun yang bening.
ayah ibuku suka menghirupnya,
aku pasti mengikuti tingkah polah mereka.
aku bocah kecil yang masih terlalu lugu untuk mampu berfikiran logis.
.....
itu terjadi kurang lebih 13-15 tahun yang lalu.
aku suka itu.
tapi tunggu,
sekarang sudah lain jalan ceritanya.
hari minggu pagi ayah dan ibu hanya bangun pagi,
mereka sudah tak mampu lagi berlari,
hanya aku dan adik laki-lakiku,
ayah dan ibu memiliki hobi baru,
untuk hanya sekedar merapikan tanaman, atau menyiraminya.
nafasnya mereka sudah lelah,
sekarang, ayah sudah tak bisa lagi bekerja terlalu lelah,
ibu sudah tak kuat terlalau banyak mengangkat barang,
aku sadar..
mereka sudah menua,
dan aku sudah beranjak dewasa,
lebih tepatnya harus belajar dewasa.
.....
kali ini aku ingin membahas sosok ayah,
iya...
sosok ayah.
sosok yang kita banding-bandingkan dari kasih sayang ibu,
padahal ayah juga sangat mencintai kita,
akan tetapi cara beliau yang berbeda.
beliau lebih banyak diam.
itulah wibawa ayah dalam suatu keluarga.
pasti berbeda dengan ibu,
mereka punya cara masing-masing.
.....
ada banyak hal konyol yang ayah lakukan kepadaku saat aku masih bocah ingusan...
jujur aku sangat merindukan hal itu lagi,
kangen sekali...
tapi dunia berkata itu tidak mungkin terjadi lagi.
aku masih ingat saat kecil aku sering bertanya soal jakun ayah,
aku bingung..kenapa mama tidak ada jakunnya....?!
itu lucu bagiku,
hahah..
ayah selalu menjawab konyol,
jakun itu tumbuh saat ia tertelan biji duren,
kata ayah...ia tak mampu lagi mengeluarkannya hingga nyangkut di sana.
aku memaksa ayah menelannya..
mengambilkan beberapa gelas air putih yang diisi penuh.
ayah berpura-pura menelan sampai matanya melotot,
aku takut dan kasihan,
tapi tetap tidak bisa..
tak bisa ditelan...?
lalu mataku terbelalak tanda kagum...
ayah hebat...bisa menelan biji duren.
lain waktu aku sering ingin mencobanya,
mencoba menelan biji duren,
agar aku bisa seperti ayah..
omaaaaaaaaaaa......?????!!!!
ibuku menjerit marah-marah,
ini gara-gara jawaban konyol ayahku saja.
waktu itu, aku panik tak mengerti masalah orang dewasa,
ayah hanya tertawa terbahak-bahak di ujung meja makan.
aku tak mengerti.
?????
.......
pernah juga suatu hari saat aku naik kelas,
ayah membelikan aku tas satria baja hitam.
hey......! kenapa jadi begitu?
aku tak faham.
itu tas anak laki-laki,
tapi...aku tak terlalu faham, aku pakai saja ke sekolah.
sampai di sekolah aku malu tak punya muka,
seisi kelas mentertawakanku,
aku...tertunduk dan dapat julukan baru "si tomboy"
tapi..tak apa, aku tetap memakainya.
sesampai di rumah aku ceritakan pada ayah,
ayah tertawa lagi...!!!
lagi, dan lagi...
kali ini air mukanya sampai merah geli,
ibu marah besar lagi.
kali itu, aku tak faham lagi urusan orang dewasa.
ayah kembali bikin ulah,
membuatku jadi anak bocah percobaan.
ibu marah, ayah hanya tertawa.
aku pun bingung.
payah.
......
suatu malam aku ketakutan sampai mau menangis,
nilai matematikaku hari itu dapat angka enam,
ayah marah,
mukanya menyeramkan.
alisnya menyatu,
matanya tajam menatapiku,
marah.
aku panik ingin menangis,
takut ayah berubah wujud.
(kira-kira jadi apa?)
terlalu banyak nonton kartun..)
ahhhh.....parah.
aku dihadapkan pada meja belajar,
ditunggui ayah sampai jam sembilan malam,
belajar,
hufffffhhhh..
ngantuuuuuk dan pengen nonton TV,
tapi...
ini disuruh belajar.
mengulang pelajaran hari itu,
mengerjakan semua soalnya,
lalu menulisnya di halaman selanjutnya.
aku takut,
berapa kali aku tidak konsentrasi,
matematika ini lebih rumit dari pada membuat masak-masakan!
hm..
ini masih bocah,
masih SD.
lama,
diam,
menghitung,
menambah,
bla..bla..bla..
mengali, membagi, dan seterusnya,
kadang salah,
ayah menegrutkan kening lagi,
aku takut..
adik laki-lakiku kadang merengek karena masih bayi,
ah,, tangisannya mengganggu saja!
tapi..
akhirnya aku selesai juga.
wajah ayah datar,
tapi sudah tak marah,
beliau mengultimatum aku!
tidak boleh dapat nilai jelak lagi,
aku mengangguk.
takut bikin ulah lagi.
ampun....
kapok.
...........
di lain waktu,
aku sering merengek minta ajari bersepeda,
tak tahu diri meski ini siang hari panas yang merah,
aku tak peduli,
tetap merengek,
aku ingat,
esok harinya ayah membeli dua topi,
supaya kami dapat belajar siang-siang mengurangi panas.
hufffh...
aku senang,
meski sering ragu-ragu,
tapi aku yakin aku tak akan jatuh.
"ada ayah di belakangku"
ibu kadang mencegah kami,
aku tak terlalu peduli,
aku merengek dengan ayah,
setelah itu ayah kabulkan,
dengan syarat habis ini tidur siang,
aku jawab "beres"
mama sering mengerutkan kening menontoniku,
tapi....aku balas dengan senyumku yang masih ompong.
"hahahaaa...dadah mama..."
......
beberapa kisah masih banyak dalam neuron syarafku,
aku masih ingt detail ceritanya,
tapi kali ini cukup itu yang aku biaskan.
......
sekarang ayah sudah menua,
aku tangkap banyak garis umur di wajahnya,
kadang aku khawatir dengan kesehatannya,
ayah sudah banyak memikirkan kehidupan kami,
kebutuhan kami semakin banyak,
aku dan adikku sudah dewasa,
aku sadari itu,
sekarang beliau mudah sekali berkeringat,
sudah mudah lelah,
semangat beliau berjalan tak secepat dulu lagi,
hari minggu pagi beliau sudah tak cepat lagi berlari,
doa-doa beliau semakin panjang dan banyak untuk keluarganya,
pola makannya sudah berubah,
tak bisa lagi terlalu banyak minum gula,
aku kaget.
tapi itu tanda manusia mulai menua,
beliau menua,
wajahnya semakin teduh,
aku akui.
banyak tanggung jawab dan kewajiban yang beliau terima,
konsekuensi kepala keluarga.
aku sadar itu.
.....
hanya saja,
aku mulai menjauh,
sekarang,...aku tak lagi leluasa bercanda dengan ayahku,
ada banyak rasa sungkan dalam hatiku,
ah....
anak yang payah!
beliau tak lagi mengantar ku ke sekolah,
karena sekarang sudah aku dewasa dan jauh berjalan menimba ilmu baru,
aku ingin lari pagi lagi bersama..
tapi ayah sudah tak kuat,
ayah sudah tidak sanggup sebagai pelari pertama lagi,
aku sadari itu,
aku kaget saat mama mencabut tiga lembar uban di rambut ayah,
aku kaget,
aku panik,
"ko bisa yah?"
ayah hanya tersenyum..
itu tanda manusia menua,
aku panik,
aku sudah terlalu JAUH,
aku sudah terlalu CUEK,
aku sudah terlalu APATIS.
aku BERSALAH.
.....
aku jarang untuk meluangkan waktu sekedar bertanya bagaimana kabar hatinya hari ini..
bagaimana perasaan ayah hari ini,
tidak mengucapkan selamat tidur untuknya,
tidak mengingatkan ia untuk makan, atau waktu sholat.
aku sering sungkan mengucapinya selamat ulang tahun.
padahal ayah tak pernah absen hingga ultahku yang terkhir tadi,
aku tidak ini,
aku tidak itu,
padahal beliau ayahku sendiri,
ayah yang sangat mencintai anaknya.
ah....
pilu.
parah.
payah.
kalah.
......
aku semakin dewasa,
ayah semakin menua,
ada banyak kisah yang membuatku terlalu mencintainya,
ayah orang pertama yang mengajariku berhitung,
ayah orang pertama yang mengajariku membaca, menulis, menyanyi,
ayah yang selalu memenuhi seluruh kebutuhanku, dari aku lahir..
ah...
terasa durhaka sekali..
aku hanya sering berbicara, mengingatkan pada hatiku,
jangan pernah mendurhakainya,
jangan mengingatnya hanya untuk meminta uang!!
ayah itu bukan mesin ATM !!!!!
bukan robot sekehendak hati kita!!!
aku naik pitam jika ingat hal ini,
bukan berarti aku lebih baik,
hanya..
aku tak terbiasa mendengar seorang anak memperlakukan ayahnya begitu,
kenapa tidak menyediakan waktu hanya untuk menelpon ayah????!!!
sedang untuk teman atau orang lain kita bisa!!
kenapa tidak mengingatkan ini sudah waktu sholat atau makan..????!!!
sedang untuk orang lain kita bisa!!
kenapa berbicara kasar dengan ayah?????!!!!!!!
sedang dengan yang lain atau dengan teman kita santun!!!
ah, itu bulshit.
itu palsu!
itu durhaka!
hm....aku sering memaki-maki hatiku,
takut kata atau sikapku melukai ayahku.
....
aku membatin,
menahan tetes air mata dosaku...
segera datangi ayah...
raih punggung tangannnya dan meminta ampun maaf dihadapannya,
bersimpuh rendah di sisinya..
tak sadar aku telah banyak mendurhakainya,
aku tak bisa membahagiakannya,
apalagi untuk sekedar membanggakannya.
itu masih jauh.
segera katakan kepada ayah,
bahwa "aku mencintainya"
aku tak akan pernah tahu,
siapa yang lebih dahulu mengahkiri episode hidupnya
siapa tahu besok aku mati..!!
aku mati sebagai anak durhaka??
nauzubillah..
semoga ayah dipanjangkan dan disehatkan selalu.
aku mencintaimu.
aku tak mampu berkata banyak..
"ayah..."
"aku meminta maaf,,"
"bersujud berterima kasih,"
"dan banyak meminta tolong."
"aku ... anakmu...terlalu mencintaimu.."


martapura,
10 muharram 1432 H
(untuk sekerat hatiku yang masih belajar membahagiakan ayahandanya)