Jumat, 04 Februari 2011

befikir kata terindah untuk mama

5 februari 2011,






besok mama berulang tahun,
aku akan banyak menulis malam ini,
aku akan sangat kejam kepada kornea mataku malm ini,
tak untuk sekedar apa,
aku hanya ingin menghabiskan malam sembil menulis kebaikanmu mama...
aku akan menemanimu mengganti usia di malam ini,
walau sesungguhnya aku yakin kau akan sangat banyak bersujud malam ini sebagai perayaannya,
itulah cara unikmu menyambut tambahnya kedewasaanmu mama...
aku berada dalam sebuah titik bingung saat ingin menulis sehelai kalimat ucapan selamat ulang tahun untukmu esok, aku agak panik saat aku terus putar ortak mengukir kalimat dengan referensi kata terindah yang aku punya.
tak bisa karena terlalu banyak keindahan dalam dirimu yang itu tak akan pernah bisa tersampaikan hanya sebatas bahasa sederhana yang aku punya.
besok ulang tahunmu,
tak banyak yang dapat aku persiapkan untuk perayaannya,
tanah perantauan dengan kejam membentangkan jasadku terdampar jauh dari sisimu mama...
malam ini aku mungkin akan berkutat dengan bututnya kertas yang ku punya, mulai menulisi dan mengiba berharap aku mendapat inspirasi kata paling indah yang akan aku ucapkan untuk ulang tahunmu esok ...

baiklah aku mulai mereferensi kata indah, sekarang!

Pesona Adam Kota Serambi Mekah, Martapura. (Part 1)

oleh Tha LiNa pada 14 Desember 2010 jam 21:47
hari itu tak seperti biasa,
ibu menarik hati mengajak untuk sekedar bersenang-senang ke pasar.
ya..pasar setengah tradisional, tapi terlalau dramatis dibilang modern.
terlalu banci diantara keduanya,
namanya juga pasar, hinggar bingar tak teratur.
suara adu tawar di balas lagi menawar,
suara gaduh yang didominasi ibu-ibu..
hm...hm... mamayoooo...
kacau balau.
tapi aku lumayan terhibur, banyak adegan natural raut manusia aku dapati,
ada yang sombong berpolah tingkah di dalam toko dan etalase setengah mewahnya,
catat. setengah mewah.
ada yang dari tadi diam di sudut toko dengan menengadahkan tangannya ke atas meminta-minta,
ada yang dari tadi sibuk menguatkan urat leher bersikeras harga,
padahal selisihnya cuma lima ratus rupiah...
tak sanggup iklas (mungkin)
atau..
itu angka rupiah yang sangat berarti.
ada yang diam mematung, melihat jualan barangnya belum laku satu pun,
ada yang sibuk menghitung duit,
ada yang makan dengan masakan yang sangat sembarangan "nasi sisa di warung"
ada yang ini..
ada yang itu..
yaa...Tuhan.
terlalu dramatis.
......
ibu memainkan pola cepat kali ini, jalannya seperti diburu waktu.
aku keteteran mengejar-ngejar langkahnya,
tapi memang beliau suka begitu.
tak suka berlarut waktu dalam gemuruh romansa hiruk pikuk pasar.
aku suka.
jadi aku tak terlalu banyak referensi tentang pasar,
sekilas lalu melaju,
tapi beberapa moment ku abadikan dalam hati dan fikiranku.
pasar....
hiruk pikuk,
becek dan hawa lembab aneka rupa barang basah hingga kering.
anehnya...
juga ada yang sempat-sempatnya berbalas rayu murahan,
sepasang kekasih tak kenal etika dan tempat umum,
aku mendengarnya,
sedikit bergidik dan merinding...
hm...terlalu diobral, haha..
lama-lama nanti bisa didiskon, atau banting harga...
hati-hati cantik.
kau masih hijau daun.
.......
setelah yang dirasa perlu telah ibu dapatkan,
kami pulang.
kali ini lebih dahsyat lagi.
ibu terburu-buru sekali.
ampun.
apa sih yang beliau kejar?
tapi..memang demikian.
pasar itu, sudah hampir menjadi sarang kejahatan.
malas terlalu lama di sana.
ayo kita pulang.
hm..
pulang..
nah...moment inilah aku suka.
.....
waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu siang,
azan dzuhur sudah terdengar,
syahdu mengguyur batinku yang terlalu tandus dari sisi keimanan.
kami bergegas pulang.
aku dan ibu lupa...
satu hal, tapi fatal.
ini jadwal anak-anak pesantren pulang ke rumah mereka.
macet,
jalan sengaja di berikan kekhususan untuk mereka semua (ribuan) lewat, pulang.
melewati sisi sebelah depan pasar.
pasar itu berdampingan dengan mesjid agung,
di sisi membujurnya,
terdapat rentetan luas hamparan kawasan pesantren yang sudah sangat tua,
tapi sangat diagungkan di kotaku.
dan...ini jadwal kaum pesantren itu pulang.
para akhi bersarung dan gamis putih.
yang lain minggir dulu,
sekedar memberi mereka jalan lewat.
ya,..iring-iringan kaum adam yang terjaga hatinya.
hmmm
......
ada hawa dingin yang membasahi nanar mata hatiku saat aku melihat ribuan wajah itu.
aku sapu halus jutaan wajah itu.
ah....
aku tahu ini berdosa,
tapi aku keras kepala.
wajah mereka terlalu indah aku deskripsikan.
ini bukan meyangkut masalah ketampanan kaum adam,
tapi... masalah keteduhan kaum pengaji kitab suci.
pengagung keimanan.
mereka kaum muda dan kaum tua hingga anak-anak,
ada ratusan yang seumuran ku.
wajah mereka anggun, putih berseri..
air wudhu terlalu meresapi kulit wajah kaum adam yang banyak itu.
rinai tenangnya melonjor hingga tiap lipatan wajahnya,
meresap hingga ke dalam air muka mereka.
ah....teduh sekali.
aku terhipnotis dalam ketenangan batin,
sekedar menyapu wajah mereka.
matanya tak pernah mereka buka habis hingga melotot,
mereka banyak menundukkan pandangannya,
aku suka itu.
sesekali mereka menegakkan wajah sekedar sekilas melintasi jalan,
jalan yang sengaja di kawal petugas keamanan saat iring-iringan itu lewat.
ribuan laki-laki bersarung dan bergamis koko peci memutih.
setiap orang tunduk kagum saat mereka lalu di jalan,
termasuk aku.
tak ingin aku dustakan.
......
tangan kanan mereka rata-rata mengangkat kitab,
sangat diagungkan.
iya...diletakkan di dada.
itu bagus dan terlalu syahdu.
jarang aku temui kaum adam ini dengan pesonanya.
mereka terlalu suci untuk dikotori,
mereka terlalu teduh untuk diresahkan...
penjagaan hati mereka lebih kuat dari pada kerangkeng pembatas kepolisian.
aku suka itu.
tak pantas aku bayangkan,
terlalu suci untuk sekedar hinggap dalam pikiranku.
mereka...
laki-laki dengan pesona kitab suci.
indah.
tak pantas untuk sekedar dipersandingkan...
lidah mereka terlalu lincah melafazkan ayat-ayat suci Ilahiah...
tangan mereka terlalu sering menyentuh tiap lembaran kitab yang suci,
kening mereka...
ini sudah terlalu teduh untuk setiap saat mereka sujudkan,
sajadah hampir-hampir lebih berharga daripada kekasih hati mereka.
aku suka itu.
......
hingga iring-iringan berlalu,
pesonanya masih menggelayut mataku,
tak tahu ini dosa atau bagaimana....
kota serambi mekah ini membuatku selalu berkata.
"aku jatuh hati dengan nuansa keimanannya"
rasanya..
ingin mati di sini saja.



sekerat kado untuk hatiku yang mulai menandus,)

Surat Untuk Tiga Orang Yang Aku Cintai (part 1)

Ayah…




Malam ini aku tak bisa tidur mengistirahatkan diri dalam tenang dan temarangnya rasa kabut,
Tak kuasa memejamkan mata dengan baik karena sosokmu terlalu indah dalam hidupku.
Ini wajar bagiku …
Aku sering begini…
Karena aku anak manja.
Ini terjadi sudah biasa,
bukan Karena keadaanku di sini, tapi hatiku yang ada disana.
Aku sungguh mati akal mengenang raut wajah dan suaramu yang sampai kapanpun selalu mampu mencairkan segala egoisme dan kerasnya hidupku saat ini.
Belum pernah aku temui suara yang mampu menggetarkan hatiku sekedar menjadi sedetik penenang kalbuku  di saat aku galau dan parau mencari arti hidupku dan kehidupanku.
Banyak petuah dan ceritamu yang dari dulu hingga detik ini masih sangat aku rindui,
Sekedar untuk menjadi penawar rasa hampa yang menjadi hantu terbesar dalam tiap nafasku.
Ayah… lihatlah… putrimu semakin kacau dengan hidupnya yang belajar dewasa.
Putri cengeng yang setiap malam kau selimuti dulu,
Putri sulung yang sering kau ajak adu lari dan sangat takut capung!
Lihatlah ayah …
Kini aku sudah menjadi gadis keras kepala yang mampu mendustai hati demi menahan air mata.
Kini aku sudah menjadi gadis keras kepala yang mampu tertawa demi menahan amarah.
Ingatlah, itu kau yang mengajarkannya …
Ayah … aku suka caramu manantang hidup,
Aku suka caramu menahan perih,
Aku suka caramu meramahi perasaan,
Aku suka caramu marah yang sedikit dan pedas hingga terasa perih bagiku.
Aku suka caramu memerintahku,
Cukup sekali dan aku tunduk.
Ah… aku suka semua apapun tentang kau.
Kini lihatlah aku,
Pernah ibu berujar, seandainya aku laki-laki ….
Pasti akulah kembaran karaktermu, ayahku.
Sayang, aku cuma sekedar anak perempuan cengeng yang itu tak pernah itu kau lakukan ayah.
Ayah … aku rindui hadiahmu,
walau sekedar boneka micky mouse ukuran genggam tangan … kecil dan biasa.
Tapi itu selalu istimewa!
sudah lama aku tak lagi terima hadiah itu,
aku kangen mati hadiah permen hexsosmu …
permen yang sering membuatku mengeluarkan air mata karena terlalu pedas tapi aku suka,
kau mengejekku hingga aku kesal dan merajuk.
aku kangen hadiah sandal jepit biru ukurang tanggung yang sengaja kau beli sekedar untuk menemaniku main petak umpet dan tali karet dikampung.
Aku rindu saat kau mendoktrin aku belajar matematika dan bahasa Indonesia sampai larut malam,
aku kangen semua apapun yang lakukan kepadaku,
sudah lama aku tak mencium sekedar punggung tanganmu,
aku suka aroma telapak tanganmu,
telapak tangan hangat yang tanpa malu-malu sering aku benamkan kewajahku yang sudah beranjak dewasa.
aku rindu semua tentang engkau ayah..
sampai kapanpun jua…
itu aku akan selalu tetap kurindui,
apapun jua itu tentang kamu… ayahku,

Ayah..putri sulungmu ini sudah beranjak dewasa,
tak banyak yang mampu aku persembahkan di sisimu,
aku hanya anak perempuanmu yang biasa,
dan... sampai hari ini tak layak untuk kau banggakan.

Ayah… aku malu jika saat ini kau baca suratku,
saat ini aku pasti sedang terseok-seok meniti arti hidupku di tanah perantauan,
cukup sederhana yang aku impikan…
aku hanya ingin menjadi putrid yang kau banggakan.
Tidak sekear kau puji,
tapi aku ingin meneteskan air matamu karena rasa syukurmu memiliki anak sulung seperti aku.
Tapi itu kapan……….??????????!!!!!!!
Aku tak lagi kuasa menahan air mata yang biasa tampak jika aku sudah mengenangmu,
Aku tahu ini karena aku terlalu cengeng dan terharu jika mengenang sosokmu …
aku mencintaimu tak sekedar hatiku,
tapi sudah menjadi kehidupanku.
Jujur…aku rindu padamu ayah …(saat ini)
Tak ada laki-laki yang pernah aku rindui sampai menangis seperti engkau. (saat ini) ...
Aku ingin tanganmu tenangkan kerasnya keningku menantang hidup.
Aku ingin matamu teduhkan hati yang galau mempertaruhkan perasaan.
Aku ingin ucapmu bungkamkan semua ocehan keluhku.
Ayah … aku rindu petuahmu,
saat ini.
seterusnya.
kapan kita bersepeda bersama lagi?
Kapan kau temani aku membeli boneka lagi,
kapan kau marahi aku gara-gara nilai matematika jelek?
Kapan lagi…. ?
Ingin ku benamkan sekujur tubuhku untuk sekedar memeluki tubuh hangat dan kasihmu ayahku …
kapan lagi kau belai kepalaku saat aku menangis gara-gara permen lolypop yang jatuh ke tanah?
Kau membujukku …
Aku suka dimanjakan,
Ayah …. Sedih rasanya jika mengenang semua yang telah engakau lakukan …
saat aku masih bayi hingga aku dewasa.
Ibu bercerita…suara engkau lah yang menjadi suara pertama saat aku tiba di dunia..
saat matamu berkaca-kaca melafazkan azan untuk aku,
anak perempuamu yang masih merah.
Aku mencintaimu ayah …
ayah...
tak ada kesimpulan ataupun permintaan yang jelas dari isi suratku untuk mu …
aku hanya punya satu kaliamat pendek untukmu..

“Aku mencintaimu ayah…”

Minggu, 30 Januari 2011

kalian membeli hatiku,

oleh Tha LiNa pada 27 Desember 2010 jam 15:28
 
 
 
 

KU UCAPKAN TERIMAKASIH..

kepada beberapa kerat hati yang telah memberiku kado paling indah di ujung tahun ini,
tahun 2010..
di mana tahun depan kalian sudah resmi meraih cita-cita kalian yang telah setengah mati kalian perjuangkan.
Tahun depan kalian akan mereguk indahnya meraih cita-cita itu..
Ku ucapkan selamat kawan,

Aku sangat mengagumi hadiah kalian,
Hadiah itu,
aku teramat sangat terharu saat kalian serahkan hadiah itu,
tapi….(lagi) aku selalu menahan air mataku,
tak karena apa..
aku manusia yang mudah sekali terbawa perasaan,
jadi, aku sering mengubur emosiku sendiri.
Emosi yang bergejolak dengan hanya menampakkan wajah datar dan tanpa ekspresi berlebihan,
padahal tahukah…
sebetulnya aku sangat teramat terharu saat itu,
tapi aku telah mengkamuflasenya kawan.
Aku sembunyikan.
Aku malu jika terlihat sangat cengeng untuk hal itu,
Meskipun sebetulnya aku sangat cengeng,
Hmmm..
….
Beberapa lembar jilbab indah lengkap dengan aksesorisnya yang berkilau.
Hadiahmu sangat Cantik! hatiku terbeli saat melihat pemberian terindah itu,
segera ku sampaikan kegembiraanku ini kepada ibuku..
aku hanya ingin membagi rasa haruku saat tiba di rumahku,
ibukupun tersenyum melihat indahnya persahabatanku ini.
aku menyukai itu semua bukan karena keindahan barangnya yang memang bagus, cantik dan indah…
tapi lebih karena oran-orang yang telah memberinya.
Hati yang telah menyentuh hatiku,
Kawan.
Hatiku telah terbeli tanpa ada tawar-menawar dari kalian semua.
Aku menyukai hadiah itu atas nama haidupku,
bukan hanya sebatas bendanya,
tapi atas nama hati yang telah ikhlas dan tulus memberikannya sebagai symbol persahabatan,
yang sampai kapanpun kalian tak akan pernah terganti dan tertandingi.
Aku sudah terlalu sering memebelah lautan sana,
mencari tiap sisi lipatan hidup di rantau urang yang jauh dan kejam,
ku selalu terseok tegar berhadapan kenyataan,
belajar kehidupan serta persahabatan disana,
tapi tahukah..
hatiku ini terlalu sulit terbeli oleh semua itu,
tak seperti kalian yang telah membeli kerat hatiku tampa ampun,
tanpa kalian tawar, tanpa aku balas tawar,
terlalu natural dan aku suka,
jatuh hati,
dan terbeli,
aku terhipnotis oleh lelucon kalian,
lelucon yang tak pernah usai kecuali kalian tertidur.
Hahahaa.. hanya kalian yang mampu membuat aku untuk:
> Jujur
> Tertawa sampai terbahak-bahak
> Terharu sampai menahan air mata
> Jadi setengah perempuan, setengah laki-laki. ahahhaaaaaa....
> usiL
> Merasa berharga di dunia atas nama persahabatan.
> dll. lelucon yang tak bisa dilakukan orang lain bahkan orang tuaku sendiri.


>terimakasihya<

kata mama.. jangan suka menuntut kepada laki-laki.

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:18
 
 
 
 
 
hari itu badan mama terlihat agak berkucuran keringat,
terlihat sangat payah..
ada gurat kelelahan di sana. sekilas..
tapi cepat2 beliau balut dengan senyuman.
datar.. tenang.
aku suka itu.

nanti malam di rumah ada acara syukuran kecil,
mengundang beberapa kerabat dan tetangga dekat.

ayah masih di kantor.
ini sudah jam 4 sore lho..
kami butuh bantuan banyak tenaga..

prabot di rumah masih belum diatur..
tikar karpet belum digelar di tengah ruangan,
ah entah apa lagi..
agak ribet.

mama sibuk berperang dengan memasak..
hm...wanita,
hobi memasak..
di dapur.
berkutat dengan bumbu dan asap dapur.
aku pusing melihat adegan itu..
hm..

aku dan adik agak bingung.
maaa... kami cocoknya bantu apa..?
angkat2 kursi ya?
atau siapkan piring dan lain-lain kah?
lain-lain itu apa?
maa... ini di pindah ke mana?
ini di lap atau di cuci,?
ini di buang di mana?
ini di tata bagaimana?
maa..
maa..
halo..
hm...

mama diam di sudut memandangi kami..
lalu berkata,
atur lah semuanya agar enak dipandang dan terlihat rapi dan bersih..
ayahmu masih lama baru pulang,
mama berharap kepada kalian berdua..
jangan main perang-perangan dulu,
bantu mama dulu, ini serius jangan banyak bercanda dulu..
yaaa?
mama masih memasak, kali ini sangat banyak dan repot..
ingat, jangan main perang-perangan atau nonton tv dulu.

aku dan adik laki-lakikumematung dan mengangguk.
ok..
bos wanitaku..
untung tidak cerewet)))
tancap!!
kerja keras..bereskan bro...
rapikan..
bersihkan..
sapu sana sni..
lipat.
alamaaaa...
cek cek agak encok juga..

akhirnya.
_selesai_
lelah...

mama?
apa kabar?
bagaimana masakannya?
maaa?

aha..
beres kah..?
hm..
kami lihat mama ke dapur,

wajah mama agak memerah ..
terkena asap dapur..
pasti panas dan perih.
lagi.. dan.. lagi..
mama bilang.."beres"
tenang saja..
(selalu begitu)
kami selalu percaya.
karena mama selalu dapat dipercaya.

lalu..
kami mandi dan beristirahat.
rapi.
sudah beres.

adik agak dongkol rupanya,
(hm...sudahlah, masa puber..
aku juga..
sedikit.
(walau sudah terbilang dewasa..)
mungkin.

kami angkat bicara.
mama lelah yaa?
hm..
mama menatapi kedua mata kami dengan datar dan agak tawar.
mungkin beliau lelah,
lalu..
berkata..
ya..mama AGAK lelah.
tapi yang penting semuanya sudah beres..
(ampun..mama cuma bilang AGAK lelah)
serius.....?

adik berkata..
maa...kenapa ayah sibuk, padahal malam ini ada acara kan?
gimana sih.....!!!
hm..
kecewa.
mama mejawab..
mau bagaimana..
kebetulan juga ayah sibuk, tepat hari ini.. jadi tidak bisa membantu kita..
tadi baru menelpon mama,

adik menarik nafas panjang..
hmmmmmm......

mama tidak puas menjabarkan jawaban,
lalu angkat pembicaraan..
nak, ( terlebih wanta..)
janganlah suka menuntut kepada laki-laki (ayah / suamimu)
karena mereka sudah banyak tuntutan memenuhi tanggung jawabnya,
untuk masalah kecil begini,
jangan cepat merengek dan meminta..
lakukan jika kau masih kuat dan mampu..
jangan terlalu banyak mengeluh..
nanti cepat tua dan jelek.
terlihat lemah dan manja dalam hidup.
bisa saja..
tidak membuat masuk rumah sakit kan?

lalu mama berlanjut bicara)

apa pernah kita membantu ayah bekerja di kantor, lembur sampai malam?
kita ikut menemani?
hm..malah kalian tidur duluan kan?

tidak ikut membantu ayah kan..?
kita tinggal duduk manis,
tiap hari kebutuhan kita di lengkapinya..
tahukah kalian?
berapa tetes keringat ayahmu saat bekerja?
hm..kalau dibanding dengan mama yang memasak,
dan kalian merapikan rumah..
itu tidak terlalu berat.
lagi pula tidak tiap hari.
untuk hari ini saja kan?
eh, kalian harus ingat..
ayah tidak suka merengek-rengek..
jadi kalian tidak tahu..

jangan suka banyak meminta,
ayahmu tau apa yang harus dia penuhi dan cukupi,
hanya mungkin dia masih menghitung-hitung..
kapan bisa menyisihkannya buat kita..
kapan punya waktu spesial buat kita.
kapan membuat kejutan untukmu, untuk mama.. dan untuk keuarga
jangan banyak menuntut..
ayah sudah tahu kewajbannya..
mama mengenalnya.

hm..
INGAT!
untuk hal-hal lainnya di luar dari ini..
kalian, kita..
jangan terlalu banyak menuntut,
terlebih uang.
nanti ayahmu jadi KORUPTOR!!!!
mama akan kecewa punya suami KORUPTOR!
malu....
jadi..
kalian mau punya ayah tukang korup?
jadi..
biasa-biasa saja ya..
jangan banyak menuntut..
ayah sudah tau rumus kewajibannya..

dari pada kita ber empat masuk neraka, lebih baik hidup sederhana..
lakukan apa yang masih bisa kita lakukan,
jangan banyak menuntut laki-laki,
karena..
jika mereka memang benar laki-laki,
mereka pasti sudah tau apa kewajibannya sebagai lak-laki.

kata ayah.. senangkanlah hati ibumu..

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:19
 
 
 
 
 
 
ahaha,,,
suatu hari masakan mama sangat asin, mungkin beliau lupa...
tapi ayah berpura-pura tegar ditengah lautan masakan asin yang dibuat mama,
ahaha..
aku dan adik tertawa dan berkata:
ayah...ayolah..jangan sok tegar dan berpura2 tangguh..
ayah lalu menatapi kami dengan kening yang berkerut..
lalu beliau berkata:
sssttttt...
diam.....jangan berbicara terlalu keras,
nanti ibumu marah..kalian tidak tau ibumu itu sudah lelah terkena asap dapur..
makanlah...
aku dan adik saling beradu pandang..
makan?
ya Tuhan..ini sangat asin ayah..ada apa dengan mama..apa beliau lupa rumus memasak?
hm..
hening.
ayah tetap makan, tapi keningnya beberapa kali mengerucut,
tiba-tiba ibu datang bergabung..
megambil nasi, sayur, lauk..
memulai makan..
lalu.....
ssstt...
mama tersenyum dan berkata..
kalian bertiga lidahnya tidak erorkan?
hm..
adik tersulut emosi dan berkata...
maaa...asin.
ayah dan aku beradu pandang..
dan mengulum senyum..
mama lalu bilang..
ia.
maaf..
baiklah bisa menunggu beberapa menit lagi?
ibu akan menambah gula dan beberapa liter air..
kami diam..
adik tersenyum dan berkata:
jika asin berkatalah asin bro...
jika manis bertalah itu aku yang manis..
hahaha..

ayah angkat bicara..
hm..si bungsu, ayah bisa bicara sebentar kan?
adik menjawab..
ia ayah..
ayah melanjutkannya..

nak, suatu hari kalian harus berbohong tepat dihadapan ibumu sendiri..
bukan untuk menyakiti dan mendustainya..
tapi ingat,
demi wanita yang kalian cintai kehadirannya,
bahagiakanlah ibumu...
walau harus mengerutkan keningmu sendiri..
walau harus menahan galaunya perasaanmu sendiri..
walau harus mengesampingkan keinginanmu sendiri..
hanya untuk membahagiakannya.
BUKAN untuk menghianatinya..
ingat itu..

ibumu sudah lelah..tapi ia mampu mendustaimu dengan berpura2 bersemangat..
padahal ayah tau ia sudah ingin sekali beristirahat..
jadi....
cobalah waktu demi waktu..
bahagiakan ibumu.
wanita yang kau cintai sampai ke sel-sel tubuhnya itu..

jangan sungkan menangis di pundak ayahmu

oleh Tha LiNa pada 13 Desember 2010 jam 11:15
 
 
 
 
 
 
aku jarang mengalami kegagalan yang fatal,

jadi agak kurang berbakat dalam hal menagis,

bagiku air mata itu adalah jalan keluar terakhir,

bila masih bisa ditahan, tahan kuat-kuat.

telan air mata, bertengadahlah ke atas dan tataplah luasnya langit,

tarik nafas dan jangan pernah merasa lemah dan sendiri,

kira-kira itu akan menguatkanku beberapa saat hingga tangisku tertahan.

sasak dan mengalir hanya sebatas di dalam hati.



suatu saat aku gagal.

sudah umuran dewasa ini,

berhubung jarang gagal yang fatal begini, jadi agak heboh kacau balau mengharu biru perasaan.

memang tidak menangis, tapi ibu dan ayah justru diam-diam jadi khawatir,

takut aku jatuh dan depresi perasaan kegagalan.

hm....



aku jarang berbagi cerita agak pribadi dengan ayah,

walau ayah sangat terbuka denganku,

untuk masalah perasaan cita-cita dan harapan aku lebih memilih bungkam bercerita,

aku sungkan dan agak malu.

aku anak perempuan...

malu dan berat rasanya bila harus curhat dan menangis di hadapan ayah,

hm...

(harga diri terlalau tinggi atau egoisme pribadi terlalu besar,?



sudah bercerita habis-habisan dengan mama sampai wajahku memerah menahan tangis dan linangan air mata,,

mama sudah porak poranda menyemangatiku,

menenangkan tingginya dinding keinginanku yang harus runtuh oleh hal sepele dan jumlahnya cuma satu.

cukup tragis dan terluka batin.

mama sudah total bijaksana, bila mampu menurunkan kitab dengan sabda kesabaran...mungkin mama akan membacakan segala ayat-ayatnya hingga aku terlelap,

tapi sayang mama tidak 100% dapat menyelimuti rasa galau dan kekecewaan dalam hatiku,

aku memilih menepi dan diam,

mama membiarkan.. dia tahu aku terluka dan kecewa pada diriku dan inginku sendiri.

"sudahlah.. beristirahat saja dulu.. tenangkan fikiranmu dulu"

itulah kalimat penutup mama sebagai pengantarku tidurku malam itu..



...........



dua hari aku masih porak poranda dalam rasa galau,

satu minggu masih,

sebulan masih tersayat,

TUhan......

dalam sekali kecewa itu,



ayah diam mematung,

beliau bingung ingin berkata apa, takut salah rangkai kata,

aku terluka.

jadi beliau hanya duduk di sampingku, kadang menatap wajahku dalam.... sekali,

kadang memperhatikan lakonku yang tak biasa,.

akhirnya ayah habis rasa sabar..

beliau menemuiku yang duduk di ruang tengah, diam di depan tv, tapi tidak menonton acara tv.

mematung.

diam.

"Lin, kadang kamu harus merendahkan diri mebagi cerita dengan ayahmu sendiri.."

"gelas saja kalau terus diisi air akan tumpah...

"langit yang kokoh dan biru saja mampu menggugurkan hujan berselimut petir...

masa manusia tak mampu berbagi,

nanti terlalu sesak perasaanmu"



aku diam,

ada tetes demi tetes guratan kesedihan yang mulai ingin jatuh,

tapi,

selalu..

ku TAHAN.

aku tatap mata ayah,

aku tertunduk pilu..

ada rasa malu disana, aku telah membuatnya kecewa kali ini,



akhirnya ayah agak tersulut emosi, beliau matikan tv.

mengajakku ke ruang tengah,

aku diam mematung.

ayah mulai membujukku, lamaaa sekali..

aku basah di relung-relung perasaan, ada hawa lembab ku tahan kuat-kuat.

ayah membujuk., menatapi sudut mataku, memutari sisi perasaanku,

memperlakukanku dalam dorongan kasih sayang..

menunggu aku berbagi dan memuntahkan kata demi kata,

beliau menungguiku,

berbagi,

lamaaa...membujukku..

hingga ayah berkata,

"jika kamu mampu berbagi cerita lewat buku, menulis...

jika kamu mampu berbagi dengan mama lewat bahasa,

jika kamu dapat membagi dengan teman atau sahabatmu, kenapa ayah kandungmu sendiri tidak kau bagi..

pelit sekalikah perasaan anak perempuan yang telahku besarkan?"



aku hampir mati terlalu lama menahan tangis,

aku malu didepan ayah,

aku sungkan sekali..

sungguh-sungguh-sungguh...

sungkan,

tak terbayang.



akhirnya,

tetes demi tetes tangis lembab menngucur similir dalam tangis di pipiku,

aku memerah...

aku menagis..pelan,

tapi tak lagi kuat ku tahan..

akhirnya aku terisak juga..

kali ini parah dan tragis,

aku benar-benar terisak lebat dalam balutan air mata,

ayah berapa kali putar badan menenangkanku pelan,

"mengislah dipundak ayahmu...

karena ayah lah laki-laki yang jauh lebih bisa menjaga rahasiamu dibanding yang lain"..



aku menagis bukan kepalang kali ini,

mama dari tadi melihati tingkahku menyandar kepala dalam kokohnya dinding perlindungan ayah,,

mama menenangkanku kali ini,

meyudahi kegagalanku..

dan berkata semua akan berakhir besok.

saat aku bangun semua telah baik-baik saja..

aku bergelayutan dalam pundak ayah,

aku menggenggam hangatnya tangan ibuku...

aku larut dalam lautan kasih sayang keduanya,

bercerita kekecewaanku sejadi-jadinya...

habis,

tak tersisa...

ada ruang yang satu demi satu menjadi kosong dan lega dalam batinku,,

aku ingin terus bersandar dan menggenggam keduanya,

tanpa pernah berfikir kelak maut akan menjadi dinding pemisahnya,,



aku lega,,,

habis luluh lantak menangis dihadapan ayahku,

bujukan ayah membuatku membasahi pipiku,

seketika egoisme anak perempuan habis dimakan keteduhan wajah ayahanda..



......



bukan bermaksud menggurui, hanya berbagi kisah..

"di dunia ini kita beruntung, bagi anak perempuan yang sangat dicintai ayahnya..

berbagilah dalam hangatnya bola mata ayahmu, ada ayah yang jauh lebih dapat dipercaya bila dibangding dengan laki-laki di luar sana yang belum tentu dapat menjadi sandaran hati dan keluh kesahmu..menjaga rahasiamu.. wahai anak perempuan yang sangat dicintai ayahnya,

untuk mu anak perempuan maupun anak laki-laki yang menjadi permata di keluarganya,

berbagilah dengan ayahmu, meski ayah banyak diam..tapi tahukah engkau... ayahmu sering tidak bisa tidur memikirkan anak perempuan atau laki-lakinya yang ia sayangi dalam DIAM dan kokohnya perasaan tebalnya muka dalam sungkanmu, tahukah ayah selalu menyebut namamu dalam tiap doa lima waktunya. tahukah... ayah selalu ingat tanggal lahirmu, makanan kesukaanmu, warna favoritmu... dan selalu menyisihkan uangnya walau untuk oleh-oleh kecil dan biasa saat ia keluar kota...



tahukah..

ayah selalu berharap yang terbaik bagi anak perempuan atau anak laki-lakinya,

walau dia banyak membalut diri dalam diam..

karena ayah kepala keluarga,

kadang diam itulah yang membuat dia berwibawa...

tapi jauh dari itu,

ayah selalu menyediakan pundaknya untuk menopang tiap tangis cerita duka lara dan bahagia putra putrinya.

ayah selalu membuka kedua tangannya hanya untuk menggenggam keluh kesah dan cerita suka permata hatinya...



dari hari ini,

segera telpon ayah..dan tanyakan kabar terakhirnya,,

karena tahukah...

habis sholat tadi ayah baru saja mendoakanmu dalam sujud dan pengangkatan tangan di atas sajadahnya..

hanya untumu bahagia.